JAKARTA – Industri manufaktur memberikan kontribusi terbesar terhadap nilai ekspor nasional. Pada semester I tahun 2018, sumbangan dari industri manufaktur mencapai 71,59 persen dari total nilai ekspor nasional yang mencapai 88,02 miliar dolar AS.
“Di semester pertama tahun ini, jumlah ekspor produk industri manufaktur kita sebesar 63,01 miliar dolar AS, naik 5,35 persen dibanding periode yang sama tahun lalu di angka 59,81 miliar dolar AS,” kata Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian, Haris Munandar, Jumat (26/10/2018).
Haris menegaskan, pemerintah saat ini fokus untuk semakin meningkatkan nilai ekspor, guna mengatasi defisit neraca perdagangan. “Peningkatan ekspor cukup penting dalam mengerek penguatan nilai tukar rupiah,” jelasnya.
Upaya tersebut juga sesuai dengan target dari peta jalan Making Indonesia 4.0, di mana pada 2030 akan mengembalikan angka ekspor netto hingga 10 persen.
“Maka, lima sektor industri yang diprioritaskan pengembangannya dalam memasuki era revolusi industri 4.0, juga dipacu untuk aktif melakukan ekspor,” tuturnya.
Kelima sektor itu adalah industri makanan dan minuman, industri tekstil dan pakaian, industri otomotif, industri kimia dan industri elektronika.
“Kelompok manufaktur ini mampu memberikan kontribusi sebesar 65 persen terhadap total ekspor, kemudian menyumbang 60 persen untuk PDB, dan 60 persen tenaga kerja industri ada di lima sektor tersebut,” ungkap Haris.
Selama empat tahun pemerintahan Jokowi-JK, total nilai ekspor produk industri pengolahan nonmigas mengalami lonjakan. Sepanjang 2014, mencapai 119,75 miliar dolar AS, naik menjadi 125,02 miliar dolar AS di tahun 2017.
Peningkatan ekspor juga akan terus didorong melalui kebijakan hilirisasi pada sektor industri berbasis sumber daya alam (SDA). Sebab, tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) pada industri berbasis SDA masih cukup tinggi.
“Ini sejalan upaya pemerintah untuk lebih mengoptimalkan nilai tambah bahan baku dalam negeri serta memacu devisa negara, melalui peningkatan ekspor produk industri,” imbuhnya.
Guna mendorong industri dapat memperluas pasar ekspornya, diperlukan adanya kerja sama bilateral yang komprehensif. Di samping itu, pemberian insentif subsidi suku bunga kredit ekspor bagi industri serta fasilitas pembiayaan ekspor.
Saat ini, pemerintah telah memfasilitasi melalui program Kemudahan Impor Tujuan Ekspor (KITE). “Dengan dorongan tersebut, kami berharap ekspor dapat meningkat, dan target pertumbuhan industri manufaktur dapat tercapai,” ujar Haris.
Pada 2018, Kemenperin menetapkan target pertumbuhan industri pengolahan nonmigas sebesar 5,67 persen. Pada kuartal II 2018, industri pengolahan nonmigas mencatatkan pertumbuhan sebesar 4,41 persen, naik dibandingkan periode yang sama tahun 2017 sebesar 3,93 persen. (Ant)