Mitoni, Kearifan Masyarakat Jawa untuk Mencegah Hamil di Luar Nikah

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

YOGYAKARTA — Tradisi memperingati usia kehamilan saat menginjak umur 7 bulan, yang biasa dilakukan masyarakat Jawa yakni Mitoni, tak hanya menyimpan makna dan filosofi berupa doa, harapan maupun ajaran luhur nenek moyang.

Salah seorang pelestari adat Jawa asal desa Wedomartani Ngemplak Sleman, Wagiman. Foto: Jatmika H Kusmargana

Lebih dari itu, tradisi mitoni juga menjadi salah satu cara atau strategi bagi kalangan masyarakat Jawa untuk mencegah terjadinya kehamilan di luar nikah. Hal itu diungkapkan salah seorang pelestari adat Jawa asal desa Wedomartani Ngemplak Sleman, Wagiman.

Wagiman mengatakan, mitoni merupakan tradisi yang hanya diperuntukkan bagi pasangan suami-istri yang tengah mengandung anak pertama. Hal itu dimaksudkan agar, setiap pasangan yang mengandung anak pertama dapat diketahui oleh tetangga atau masyarakat sekitar.

“Tradisi ini menjadi semacam kearifan lokal masyarakat untuk mencegah terjadinya kehamilan di luar nikah. Karena dengan melakukannya, akan dapat diketahui usia kandungan seorang pasangan. Hal ini diharapkan setiap pasangan dapat menjalani hubungan sesuai kaidah tuntunan atau norma adat budaya dan agama,” ujarnya di sela acara Mitoni massal di balai desa Wedomartani Ngemplak Sleman, belum lama ini.

Di desa Wedomartani Ngemplak Sleman sendiri, tradisi Mitoni hingga saat ini dikatakan tetap masih berjalan. Meski begitu, tak sedikit pula warga yang telah meninggalkan  dengan berbagai alasan. Seperti rangkaian prosesi yang panjang hingga ketiadaan waktu maupun biaya.

“Semakin hilangnya tradisi memang berpengaruh terhadap jumlah angka kelahiran di luar nikah. Karena itu kita terus berupaya mengajak masyarakat untuk tetap melestarikan dan melaksanakannya. Salah satunya dengan menggelar acara Mitoni masal ini,” ujarnya.

Ia pun berharap melalui kegiatan ini, semakin banyak warga yang kembali melaksanakan di usia kehamilan 7 bulan pertama mereka. Sehingga tradisi yang menyimpan begitu banyak makna filosofi serta ajaran luhur tidak hilang begitu saja.

Tradisi Mitoni Masal yang digelar di balai desa Wedomartani Ngemplak Sleman Yogyakarta sendiri diikuti sebanyak tujuh pasangan suami-istri yang tengah mengandung tujuh bulan. Mereka merupakan warga desa Wedomartani, yang mengajukan diri untuk menjadi peserta. Dalam kegiatan itu, mereka mengikuti setiap rangkaian upacara mulai dari siraman, brojolan, pecah telur hingga rebutan inggung.

Selain menjadi daya tarik tersendiri karena dilakukan secara penuh, upacara tradisi Mitoni ini juga mengundang perhatian berbagai kalangan. Karena di setiap prosesi upacara dijelaskan setiap makna dari simbol-simbol yang digunakan. Baik itu berupa doa, harapan, hingga ajaran luhur nenek moyang.

Lihat juga...