Mengawal Spirit Kebangsaan dan Keagamaan ala MATAN Jember
Makmun Hidayat
JEMBER – Ketua Mahasiswa Ahli Thoriqoh Annahdyiyah (MATAN) Cabang Jember, Jawa Timur, Dr. Nurul Ghufron SH MH menyebut, dalam memahami kehidupan berbangsa, bagi ahli thoriqoh, bangsa adalah wadah berkumpul dan berkehidupan manusia dalam suatu wilayah.
Berdampingan dengan warga lain yang majemuk, dengan menjamin hak untuk hidup secara damai, terlindungi hak beribadahnya, hak sosial dan ekonomi, serta hak politik dan kenegaraan lainnya. “Kehidupan bernegara pun sama halnya, di kala bernegara saat ini dalam banyak goncangan dan cobaan, thoriqoh memberikan kejelasan, bahwa bernegara adalah bagian dari berkehidupan,” jelas Ghufron, Minggu (14/10/2018).
Ghufron mengilustrasikan, kehidupan sebagai upaya mengarungi samudera bahtera. Terombamg ambing dengan berbagai hantaman dan rintangan, hanya pribadi yang memiliki pegangan kuat, yang akan mampu mengarunginya.
Thoriqoh, diyakini adalah tali yang menghubungkan seseorang dan umat, melalui guru-guru, yang bersambung sanadnya dengan Rosulullah, dan karenanya bersambung kepada Allah SWT. “Karena itu MATAN, memahami ber-Indonesia adalah menjalani sunatullah, berbangsa-bangsa berkumpul bersama dalam suatu wilayah dengan umat lainnya. Untuk menata kehidupan secara damai dalam berbagai perbedaan,” kata Ghufron yang kini menjabat Dekan di Fakultas Hukum Unej.
Menurut Ghufron, MATAN memahami Indonesia sebagai wadah dan bentuk bernegara, yang dicita-citakan para mujahid, yang merupakan ulama. Indonesia adalah negara yang terlahir dari perjuangan dan darah para ulama. “Sebagai negara yang diperjuangkan dan dicitakan umat Islam, Indonesia dicitakan sebagai daerah yang memungkinkan kehidupan dan peribadatan umat Islam terlindungi dan terfasilitasi oleh negara,” tandasnya.
MATAN sebagai wadah bagi persemaian, dan mendidik generasi yang tidak saja memampukan diri pada aspek pengetahuan dan tehnologi, tetapi juga akhlak. Aspek spirit kehidupan yang menegaskan bahwa, segenap potensi diri setiap warga itu harus diwujudkan sebagai buah dari cinta bangsa dan negara, dan menjadi bagian dari iman.
Berkaitan mengenai paham kebangsaan, MATAN memandang, perilaku bernegara yang merugikan bangsa, seperti korupsi dan penyalahgunaan narkoba, padahal bangsa Indonesia adalah bangsa yang religius, menunjukkan keberagamaan yang masih dalam tataran pemahaman. Belum secara sempurna memginternalisasi spirit kehidupan dan bernegara. “MATAN yang mengedepankan spirit keagamaan, adalah generasi bangsa yang akan menjadi solusi atas masih maraknya korupsi dan penyakit bangsa lainnya,” tandasnya.