Baru Pertama Menanam Melon, Petani Desa Madura Hasilkan Rp10 Juta
Editor: Mahadeva WS
YOGYAKARTA – Program percontohan budidaya Melon Hibrida Mekarsari SH1, yang dijalankan Yayasan Damandiri dan Kebun Buah Mekarsari di desa Madura, Wanareja, Cilacap, terbukti berhasil meningkatkan pendapatan dan penghasilan petani setempat.
Melalui berbagai pelatihan dan pendampingan yang dilakukan, pada petani yang sebelumnya tidak pernah menanam melon, ternyata mampu menghasilkan melon dengan hasil melimpah. Salah seorang petani asal Dusun Ciopat, Desa Madura, Ucu Zaenudin, adalah salah satunya. Menanam Melon Hibrida Mekarsari SH1, untuk pertama kali di lahan seluas 1.400 meter persegi, Zaenudin mampu menghasilkan dua ton lebih Melon Hibrida Mekarsari SH1.

“Sebelumnya saya belum pernah menanam melon. Kemudian saya ikut pelatihan dan pembimbingan dari Yayasan Damandiri dan Kebun Buah Mekarsari. Jadi meski baru belajar pertama kali tapi Alhamdulillah berhasil,” katanya seusai acara panen perdana Melon Hibrida Mekarsari SH1di dempot seluas 1,3 hektare Desa Madura.
Zaenudin tidak hanya dibantu bibit serta pendampingan, para petani di Desa Madura seperti Dia, juga mendapat bantuan soal pemasaran. Seluruh Melon Hibrida Mekarsari SH1 hasil panen yang dihasilkan, langsung diserap oleh Mekarsari. “Melon hasil panen ini dibeli langsung Mekarsari, satu kilo dihargai Rp10 ribu. Dengan biaya produksi sekitar Rp9 juta, petani bisa dapat hasil Rp10juta lebih. Tapi dihitung dari pembiayaan, petani hanya keluar sedikit karena kita dibantu,” katanya.
Dengan masa panen yang relatif singkat yakni dua hingga 2,5 bulan, petani mengaku masih terkendala sejumlah hal, seperti hama tret, yang membuat daun jadi mengering dan mengkerut. Untuk mengatasi hal tersebut, mereka biasa melakukan penyemprotan pestisida.

Manager Riset dan Produksi Tanaman Kebun Buah Mekarsari, Aziz Natawijaya menyebut, dari delapan petani Melon Hibrida Mekarsari SH1, yang dilatih di Desa Madura, baru tiga petani yang bisa dikatakan berhasil. Hal itu disebabkan karena seluruh petani belum terbiasa menananam melon.
“Mereka kan memang belum pernah menanam melon, sehingga belum terbiasa. Tapi kita berupaya melatih dan membiasakan mereka menanam selain padi. Karena tujuan kita adalah meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani, tanpa menghilangkan komoditas yang sudah ada,” katanya.
Jika dikelola dengan baik, Melon Hibrida Mekarsari SH1, memiliki potensi bisnis yang sangat besar. Satu hektar lahan pertanian, bisa menghasilkan sekitar tiga ton melon. Masa panen Melon Hibrida Mekarsari SH1, juga relatif lebih singkat jika dibandingkan dengan melon biasa.
“Kalau melon biasa masa panen butuh 90 hari, tapi ini hanya 65 hari. Ukuran buah melon ini juga relatif, sehingga bisa disesuaikan kebutuhan konsumen. Selain itu varietas SH ini juga termasuk bandel dan tahan banting. Dengan nilai jual Rp25 ribu hingga Rp30 ribu perkilogram, satu hektar lahan bisa menghasilkan Rp190 juta hingga Rp200 juta. Dengan biaya pokok modal sekitar Rp8 juta,” katanya.