Label Teknologi, Tak Halangi Mahasiswa STIMIK Berkesenian

Editor: Mahadeva WS

DENPASAR – STIMIK STIKOM Bali, merupakan kampus berlabel teknologi. Kendati demikian, hal itu tidak mengurangi semangat mahasiswanya, untuk unjuk gigi dibidang seni dan budaya. Hal itu dibuktikan saat mereka, turut serta mengisi Gelar Seni Akhir Pekan Bali Mandara Nawanatya III, Minggu, (14/10/2018). Gelar seni tersebut dilakukan di Kalangan Madya Mandala, Taman Budaya Denpasar.

STIMIK STIKOM Bali tampil maksimal membawakan tiga garapan. Sebagai pembuka, Komunitas Seni Abinaya Aksata (Komunitas Seni STIMIK STIKOM Bali) menampilkan tari penyambutan bertajuk, Tari Sekar Sanjiwani. Menurut Putu Setyarini, selaku penata Tari Sekar Sanjiwani, tari itu berinti sari pada bakti sradha.

“Bakti itu sembah, dan sradha itu keyakinan, jadi disini kami mengemas bahwa keyakinan masyarakat Bali akan keberadaan Sang Hyang Widhi Wasa untuk melakukan persembahan,” terang Setyarini.

Seusai dimanjakan eloknya gerak para penari, garapan musik yang bertajuk Pada Lima, mendapatkan giliran memanjakan telinga penonton. Pada Lima terinspirasi dari pemahaman pathet, dalam konteks gamelan tujuh nada, lima yang merupakan nada pokok dari setiap pathet. “Pathet memanglah pengaturan nada dalam gamelan, garapan ini menekankan pada pathet untuk mengentalkan harmonisasi dan keindahan pada garapan Pada Lima sendiri,” jelas Pande Gede Eka Mardiana, komposer garapan Pada Lima.

Jauh dari kesan gong kebyar, gamelan Pada Lima, memiliki ritme unik. Perpaduan angklung dengan instrumen bambu, menjadikan setiap bunyi yang dihasilkan memiliki perpaduan yang serasi. Garapan terakhir yang dipersembahkan adalah, tari kreasi bertajuk Santhi, yang melukiskan pasang surutnya sebuah organisasi dalam perjalanannya.

I Made Bandem, seorang pengamat seni Bali, garapan yang dipersembahkan oleh STIMIK STIKOM Bali memiliki tema yang abstrak.  “Mereka tidak berpatokan pada sendratari tapi ini lebih ke abstrak yang estetik. Jadi mereka tidak mau memuja dan mabuk teknologi. Teknologi itu sarana berkreativitas sarana untuk berinovasi lalu mereka lebih banyak belajar dengan lingkungan,” tutur I Made Bandem.

Bagi Bandem apapun universitas dan jurusannya, kalau memang ada niat mempelajari kesenian Bali maka latar belakang itu bukanlah masalah. “Anak-anak Bali itu biar dia masuk di STIKOM, di kedokteran, atau pun dia di ISI, kalau sudah dilatih dengan teknik yang baik pasti dia punya kualitas,” ungkapnya.

Terkadang, masyarakat tidak dapat membedakan apakah penampil berasal dari sekolah seni atau tidak. Bandem menyadari, mahasiswa memiliki dasar kreatif, mahasiswa senantiasa membutuhkan ruang untuk menuangkan daya kreativitasnya.  Oleh karenanya, pemerintah perlu memberikan kesempatan secara terus-menerus, dalam bentuk apapun agar festival tetap ada. “Generasi muda ini harus tetap dilibatkan,” pungkasnya.

Lihat juga...