Kemarau, Produksi Garam di Probolinggo Melimpah
PROBOLINGGO, JAWA TIMUR — Produksi garam di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, melimpah akibat musim kemarau panjang pada tahun 2018, sehingga hal tersebut disyukuri oleh petani garam di wilayah setempat.
“Produksi garam melimpah karena masa panen di musim kemarau lebih singkat karena biasanya panen setiap 7-10 hari sekali, namun sekarang 3-5 hari saja sudah bisa panen dengan cuaca panas yang cukup terik,” kata Suparyono, petani garam asal Desa Kalibuntu, Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, Selasa (23/10/2018).
Menurutnya harga jual garam di Probolinggo masih stabil yakni Rp1.100 per kilogram, meskipun memasuki panen raya karena pada musim-musim sebelumnya, harga jual bisa anjlok hingga menjadi Rp300 per kilogram saat panen raya.
“Stabilnya harga garam karena petani kompak menyimpan garamnya di gudang saat produksi berlebih, sehingga kami tidak main obral harga saat panen raya,” tuturnya.
Pada musim panen sebelumnya, lanjut dia, petani menjual seluruh produksi garam yang sudah panen, misalnya panen sebanyak delapan ton dan seluruhnya langsung dijual kepada pedagang, sehingga menyebabkan harga anjlok.
“Berdasarkan pengalaman itu, para petani garam sekarang tidak menjual langsung seluruh hasil panennya seperti sekarang hanya menjual sebagian dari total panennya yakni sekitar 2-3 ton saja per panen,” kata Ketua Kalibuntu Sejatera I itu.
Ia mengatakan petani garam senang dengan musim kemarau yang cukup panjang pada tahun 2018, sehingga sebagian petani menyimpan garamnya di gudang untuk persiapan musim hujan nanti.
“Saat ini saya sudah menyimpan garam mencapai 100 ton. Garam itu akan dijual saat musim hujan karena mayoritas petani garam berhenti produksi garam,” ujarnya.
Suparyono mengatakan biasanya harga jual garam akan mahal pada saat musim hujan karena produksi garam berkurang, sehingga hal itu menjadi kesempatan bagi petani menjual garam yang disimpan di gudang.
Pemerintah Kabupaten Probolinggo menargetkan produksi garam tahun 2018 sebanyak 20.000 ton dan jumlah tersebut meningkat dibandingkan target tahun 2017 sebanyak 15.000 ton. [Ant]