IKM Batik Khas Jember Miliki Sertifikat ‘Batik Mark’

Editor: Koko Triarko

JEMBER – Saat ini, batik merupakan salah satu hasil budaya yang telah mendunia.  Pada masa kini pula, batik mulai mendapat sorotan dari generasi muda. Inovasi demi inovasi membuat kalangan muda tidak malu mengenakan batik. Bahkan, ada kebanggaan mengenakan batik Indonesia.
Seperti halnya usaha batik lainnya, inovasi dan kreativitas batik membuat usaha batik di Jember semakin tumbuh pesat, sesuai dengan karakteristik masing-masing, sehingga mampu menjadi ciri khasnya. Pertumbuhan tersebut ditandai dengan semakin banyaknya masyarakat yang mengembangkan batik berbasis industri kecil menengah (IKM) secara mandiri.
Sri Lestari dan Imam Syafi’i, adalah satu dari sekian banyak pelaku usaha batik alam Jember yang mampu mengaktualisasikan kreativitasnya dalam corak batik alam di Jember, dengan ciri khasnya berupa motif yang cenderung kecil. Seperti halnya ciri khas batik Jember didominasi oleh motif daun tembakau dan cenderung besar bentuk motifnya.
Sri Lestari, perajin batik khas Jember -Foto: Kusbandono
“Awalnya senang saja ikut nimbrung ketika Lembaga Kewirausahaan Mandiri (LKM) di desa Tegalsari mengdakan pelatihan batik dengan dana  Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM),” kata Sri Lestari, kepada Cendana News, Selasa (23/10/2018).
Proses melanjutkan belajar membatik tersebut dilakukan secara aktif, dan terus-menerus, dengan semangat belajar ini akhirnya Sri Lestari didukung suami mulai mengembangkan usaha batik ini secara mandiri.
“Saya belajar sejak 2011, nimbrung di pelatihannya PNPM,” imbuhnya.
Dalam proses pembuatan batik, terutama batik alam, batik buatannya  mempunyai ciri khas motif kecil, sehingga dapat menjadi pembeda dengan batik khas Jember yang umumnya cenderung besar motif batiknya.
“Mungkin yang sedikit membedakan dengan batik Jember pada umumnya. Sedangkan batik buatan saya motifnya agak penuh dengan motif cenderung kecil,” papar Sri.
Sri dengan 17 karyawannya yang bekerja secara borongan, mampu menghasilkan rata-rata 200 lembar kain batik alam tiap bulannya, dengan berbagai motif khasnya.
“Kita tidak bisa hitung harian ongkos kerja karyawan, karena tiap orang punya keahlian masing-masing dan tingkat kesulitan juga tidak sama. Ada yang pegang gambar sendiri, canting sendiri, dan warna juga sendiri. Kami baru terima pesanan pada 2013,” jelas Sri.
Harga kain batik alam produk batik buatan Sri, bervariasi dan bergantung pada tingkat kesulitan dalam proses pembuatannya. Sehingga di masing-masing proses itu, berdasar tingkat keahlian karyawan juga dapat mempengaruhi harga.
“Mulai Rp110.000 sampai dengan kisaran Rp500.000 untuk warna yang menggunakan bahan kimia. Sedangkan yang menggunakan warna alami berkisar Rp2 juta sampai Rp2,5 juta per lembar,” ungkap Sri.
Ada pun pemasarannya lebih banyak dilakukan dengan membuka galeri yang sekaligus rumah produksi, di Desa Tegal Sari, Kecamatan Ambulu, sehingga para pembeli bisa melihat secara langsung proses pembuatan batik alam tersebut.
“Tidak jarang juga, kami mengikuti berbagai pameran yang diadakan oleh dinas terkait, sehingga bisa promosi. Batik saya juga berhak menggunakan warna alam, karena telah memegang sertifikat Batik Mark dari Balai Batik Indonesia,” ungkapnya.
Upaya untuk mendapat sertifikat Batik Mark dari Balai Batik Indonesia di Yogyakarta, telah melalui seleksi yang dilakukan oleh Disperindag Provinsi Jawa Timur, yang menfasilitasi dengan mengajukan kepada bidang penelitian dan pengembangan balai batik Indonesia di Yogyakarta.
“Kemudian ada petugas pengambil sampel yang datang ke sini, ditugaskan dari pusat penelitian batik di Yogyakarta,” tambah Sri.
Untuk mendapatkan sertifikat Batik Mark tersebut, terdapat kriteria yang harus dipenuhi, di antaranya memiliki corak khas Indonesia, memiliki rapor batik (ada efek warna pecahan lilin atau malam), uji gosok dan uji panas sesuai SNI.
“Alhamdulillah, bisa memenuhi semua kriteria tersebut dan berhak menggunakan warna alam,” pungkasnya.
Lihat juga...