Gempa Talaud Akibat Subduksi Lempeng Laut Filipina
MANADO – Gempa yang mengguncang Barat Melonguane, Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara, terjadi akibat aktivitas zona subduksi lempeng Laut Filipina.
“Memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenter, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi menengah,” kata Kepala Pusat Data Gempa Bumi dan Tsunami, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Rahmat Triyono, Minggu (28/10/2018).
Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan, gempa di wilayah Laut Sulawesi tersebut, dibangkitkan oleh deformasi batuan dengan mekanisme pergerakan dari struktur sesar naik. Dampak gempa bumi tersebut, berdasarkan laporan masyarakat, menunjukkan bahwa guncangan dirasakan di daerah Melonguane dalam skala intensitas II-III MMI.
Belum ada laporan, mengenai dampak kerusakan yang ditimbulkan. Sementara, dari hasil pemodelan yang dilakukan, menunjukkan bahwa gempa tersebut tidak berpotensi tsunami. Hingga pukul 15.23 WIB, hasil monitoring BMKG, belum menunjukkan adanya aktivitas gempa bumi susulan (aftershock), masyarakat diimbau tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Minggu (28/10/2018), pukul 16:10:01 WITA, wilayah Kabupaten Kepulauan Talaud diguncang gempa bumi tektonik. Hasil analisis BMKG menunjukkan gempa memiliki kekuatan M=5,2, dengan episenter terletak pada koordinat 4,04 LU dan 126,6 BT. Episenter berada di laut, pada jarak 10 kilometer arah barat Melonguane, pada kedalaman 62 kilometer. (Ant)