CTC: Perlu Kebersamaan Jaga Keindahan Terumbu Karang Indonesia
Redaktur: ME. Bijo Dirajo
DENPASAR — Nusantara merupakan satu dari enam negara yang memiliki terumbu karang yang indah yang masuk dalam Coral Triangle. Yakni meliputi kawasan Indonesia, Malaysia, Filipina, Timor Leste, Kepulauan Solomon, dan Papua New Guinea.
Direktur Eksekutif Coral Triangle Centre (CTC), Rili Djohani menyebutkan, untuk memberikan perlindungan bagi potensi alam bawa air tersebut, pemerintah sudah membentuk kawasan konservasi perairan dan hutan. Setidaknya ada 140 kawasan konservasi perairan (KKP) dan salah satunya di Nusa Penida dengan luas 20.057 hektare.
“Yaitu Nusa Penida, Nusa Ceningan, dan Nusa Lembongan. Di KKP Nusa Penida terdapat 298 spesies terumbu karang dan 576 spesies ikan terumbu karang,” sebutnya di Denpasar, Senin (22/10/2018).
Selain itu kata Rili, dengan menjaga terumbu karang juga dapat memberikan asupan oksigen bagi ikan yang memanfaatkannya sebagai tempat berlindung.
“Hal ini perlu dijaga agar tetap lestari karena terumbu karang dengan kondisi baik ini menghasilkan 50 persen oksigen di bawah air,” ucap Rili saat ditemui Senin, (22/10/2018).
Disebutkan juga, langkah dalam menjaga kelestarian, pihaknya terus menjalin kerja sama dengan beberapa pihak, termasuk lembaga dari CTC sendiri dengan masyarakat, terutama pelaku jasa wisata bahari di pulau Nusa Penida.
“Kita tidak bisa bergerak sendiri. Harus ada kolaborasi dan kerja sama dengan semua pihak agar ikut aktif dalam kegiatan konservasi ini,” kata Rili lagi.
Kerja sama dengan pariwisata, kata Rili, sangat penting. Dengan adanya dive industri, ikut membantu memonitor kondisi perairan, dan dive operator juga dapat memberikan pemahaman kepada wisatawan.
“Misalnya bagi para wisatawan dilarang untuk menginjak atau berjalan di terumbu karang, tidak mengambil karang dan tidak mengganggu ikan,” sebutnya.
Selain itu, fokus masalah yang dihadapi ke depan adalah mengatasi sampah plastik di laut. Jika ini terus dibiarkan maka menjadi ancaman bagi kelangsungan hidup di dasar laut.
“Bahkan kita memprediksi, 2050 laut Bali akan banyak sampah plastik daripada ikan,” katanya.
Hal ini perlu mendapat penanganan serius. Di antaranya mengurangi penggunaan plastik dalam kehidupan sehari-hari dan adanya aturan soal pembatasan sampah dari pemerintah setempat.
Hal serupa juga disampaikan Pakar Konservasi Sumber Daya Perikanan, Abdul Halim. Ia menilai, KKP mendukung terciptanya tempat-tempat yang nyaman bagi banyak spesies untuk berkembang biak.
Karena berdasarkan penelitian yang ia lakukan dalam beberapa waktu terakhir, saat ini ikan yang ditangkap nelayan kebanyakan memiliki panjang 30 cm hingga 38 cm. Padahal ikan tersebut dewasa saat berukuran 44 cm dan pada saat itu pula baru dapat memijah (bertelur).
“Jadi saat panjangnya 30 cm dan 38 cm belum bisa menghasilkan keturunan, jika ditangkap otomatis populasi perikanan kita belum sehat,” kata Halim.
Ia menambahkan nilai SPR atau indeks potensi kemampuan ikan memijah yang baik yaitu 40 persen sehingga populasi ikan dapat dikatakan sehat. Jika kurang maka sumber daya perikanan masih berada pada garis merah.