Bangkitkan Perdesaan, Gianyar Gelar Festival Payangan
Editor: Mahadeva WS
GIANYAR – Pembangunan Gianyar, semestinya sudah mulai bisa merata hingga ke berbagai kecamatan dan desa. Tidak hanya terfokus di satu kecamatan.
Proses pembangunan harus merata, sejalan dengan program semesta berencana Pemerintah Pusat. Hal tersebut diungkapkan Bupati Gianyar, Made Mahayastra saat membuka Festival Payangan ke-2, di Areal Taman Pahlawan, Kecamatan Payangan, Gianyar, Senin (29/10/2018).
Festival Payangan ke-2, dilaksanakan bertepatan dengan pelaksanaan Hari Sumpah Pemuda ke-90. Festival ini merupakan ajang adu prestasi pemuda Payangan. Bukan berarti mengesampingkan peran orang tua selaku pembina sekaligus pengayom. Potensi Payangan tidak saja sebagai daerah pariwisata, Payangan merupakan kawasan pertanian dan peternakan.

Ke depan, festival ini tidak saja akan menonjolkan kreativitas seniman maupun budayawan. “Saya berharap, ke depan festival ini bisa sangat berguna bagi para petani dan peternak, dengan melaksanakan lomba Sapi terbesar dan kegiatan lainnya, sehingga para petani bisa siap-siap dari sekarang,” papar Mahayastra.
Adu ide dan gagasan, para seniman dalam Festival Payangan ke-2, diharap mampu meningkatkan kreativitas dan menjadi ujung tombak pelestarian seni dan budaya di Gianyar. Disisi lain, festival tersebut, juga diharap mampu meningkatkan kunjungan Pariwisata ke Gianyar. Dengan begitu, kehidupan berkesenian mampu menunjang kesejahteraan masyarakat. “Saya berharap para camat membuat terobosan yang mampu membuat agenda rutin seperti Festival Payangan, Festival Lebih, Festival Suwat dan festival lain di Gianyar,” cetusnya.
Ketua Panitia Festival Payangan ke-2, I Nyoman Darma mengatakan, Festival Payangan ke-2 dilaksanakan selama 6 hari, dimulai Minggu (28/10/2018) hingga Jumat (2/11/2018). Pada saat pembukaan, ditampilkan Baleganjur asal sembilan desa se-Kecamatan Payangan. Pembukaan diawali dengan pengibaran bendera, baris berbaris, pawai obor yang dibawakan anak-anak remaja Payangan.
Dilanjutkan penampilan Tari Rejang Sari, yang dibawakan 125 ibu-ibu PKK se-Kecamatan Payangan. “Mereka tampil membawakan cerita kehidupan desa mereka yang digarap menjadi sebuah tabuh dan gerak tari Baleganjur,” papar Darma.
Kemudian, dipentaskan secara bergilir duta masing-masing desa, urutan pertama, Sekaa Baleganjur Desa Melinggih, dilanjut Desa Bukian, Desa Puhu, Desa Bresela, Desa Buahan, Desa Melinggih Klod, Desa Klusa, Desa Buahan Kaja dan terakhir duta Desa Kerta. “Selanjutnya, setiap malam hingga penutupan akan selalu dihibur ratusan seniman muda Payangan, mulai tari bebarongan hingga tari lepas,” pungkas Nyoman Dharma.