LAMPUNG – General Manager PT. ASDP Indonesia Ferry Cabang Bakauheni, Hasan Lessy, menyebut, dalam beberapa hari terakhir cuaca didominasi angin kencang, terutama jelang sore hingga malam hari.
Langkah antisipasi telah dikoordinasikan dengan pihak terkait, untuk mengutamakan keselamatan pelayaran di lintas Selat Sunda, penghubung pelabuhan Bakauheni menuju ke pelabuhan Merak.
Menurutnya, selama ini PT. ASDP Indonesia selalu berkoordinasi dengan Badan Pengelola Transportasi Darat (BPTD) wilayah VI Bengkulu Lampung, Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan Kelas V Bakauheni, Ship Traffic Control (STC).
Faktor keselamatan pengguna jasa pelayaran menjadi prioritas utama, sehingga dalam kondisi cuaca tidak bersahabat, pelayaran memperhatikan kondisi cuaca.
“Pelayanan pelabuhan penyeberangan masih berjalan dengan normal, karena kapal yang kita operasikan memiliki GT yang besar, sehingga pada kondisi angin kencang dan gelombang tinggi tidak terpengaruh,” terang Hasan Lessy, saat ditemui Cendana News, Jumat (19/10/2018).
Hasan Lessy memastikan, ASDP terus mendapatkan informasi prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Maritim Lampung. Informasi tersebut menjadi acuan dalam aktivitas pelayaran, sehingga pengguna jasa tetap bisa merasa nyaman.
Sesuai dengan prakiraan cuaca BMKG Stasiun Meteorologi Lampung, diinformasikan akan adanya peringatan dini gelombang tinggi. Kewaspadaan pun menjadi perhatian bagi operator pelayaran di lintas Selat Sunda.

Hasan Lessy mengatakan, kondisi alam yang demikian telah diantisipasi dengan mengoperasikan kapal-kapal berbobot besar, di atas 5.000 gross ton. Sesuai Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) Nomor 88 Tahun 2014 tentang Pengaturan Ukuran Kapal Angkutan Penyeberangan di Lintas Merak-Bakauheni. Aturan tersebut mewajibkan kapal angkutan penyeberangan yang beroperasi pada lintasan Merak-Bakauheni berukuran paling sedikit 5.000 GT, mulai Desember 2018.
“Selain untuk mengantisipasi lonjakan penumpang, tentunya dalam kondisi cuaca tak bersahabat, kapal masih bisa beroperasi tanpa terkendala cuaca,” beber Hasan Lessy.
Ia memastikan, cuaca tak bersahabat akan terus dipantau, dan ia mengimbau, agar nahkoda bisa mengutamakan faktor keselamatan.
Sekitar 27-28 kapal roll on roll off (Roro) pada penyeberangan normal dioperasikan untuk melayani pengguna jasa dengan kendaraan dan pejalan kaki, yang akan menyeberang dari pulau Sumatra ke Pulau Jawa. Kewaspadaan akan kondisi cuaca yang bisa berubah sewaktu-waktu, bisa memperhatikan prakiraan cuaca resmi dari BMKG, agar langkah antisipasi bisa dilakukan.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Maritim Lampung, sesuai data yang diterima Cendana News, telah mengeluarkan peringatan dini gelombang tinggi.
Melalui surat edaran Nomor ME.301/019.PD/PJG/X/2018, peringatan dini dikirimkan ke sejumlah pihak, berlaku sejak 19 Oktober 2018, pukul 19.00 WIB hingga 20 Oktober 2018 pukul 19.00 WIB.
Sesuai prakiraan, tinggi gelombang mencapai 1,25-2,40 meter, dikategorikan berbahaya dan berpeluang terjadi di Selat Sunda Utara Lampung.
Sugiyono, ST., M.Kom, Kepala Stasiun Maritim Lampung, saat dikonfirmasi melalui aplikasi WhatsApp, membenarkan hal itu. Selain di wilayah Selat Sunda utara Lampung, tinggi gelombang 2,50-4,0 meter dikategorikan berbahaya berpeluang terjadi di perairan Barat Lampung, Samudera Hindia Barat Lampung, Selat Sunda Selatan Lampung. Kondisi tersebut didominasi angin kencang, terutama pada sore hari.
