Supaya Tetap Panen, Petani Keluarkan Biaya Ekstra Airi Sawah
Editor: Satmoko Budi Santoso
LAMPUNG – Sejumlah petani padi di wilayah Kecamatan Sragi, Penengahan, Ketapang Kabupaten Lampung Selatan, masih terdampak kemarau memasuki masa tanam ketiga (MT3).
Iwan (30) salah satu warga Desa Kelaten, Kecamatan Penengahan, menyebut, mengeluarkan biaya ekstra untuk menyiapkan mesin pompa air, bahan bakar minyak berupa premium. Mesin pompa untuk mengalirkan air disediakan dengan sistem sewa sementara untuk bahan bakar dibeli dengan sistem eceran.
Sistem sewa mesin pompa diakuinya dilakukan patungan bersama dengan petani lain. Aliran air didapatkan dari sungai kecil dengan membendung air hingga penuh selanjutnya disedot ke lahan sawah.

“Musim kemarau ini memang harus mengeluarkan biaya ekstra karena puncak kekeringan terjadi saat padi memasuki masa berbulir atau mratak sehingga sangat butuh air,” terang Iwan, salah satu petani padi, saat ditemui Cendana News tengah melakukan proses penyedotan air untuk lahan sawah miliknya, Selasa (18/9/2018).
Total kebutuhan untuk proses mengairi lahan sawah padi varietas Ciherang miliknya diakui membutuhkan biaya sekitar Rp250 ribu per hari. Ia mengaku, proses penyedotan air untuk mengairi sawah kerap dilakukan selama dua hari. Setelah itu dilakukan sepuluh hari kemudian menyesuaikan kebutuhan.
Mesin pompa air merupakan milik bersama kelompok tani (Poktan) Harapan Maju yang boleh digunakan oleh anggota kelompok dengan sistem sewa Rp100 ribu per hari ditanggung oleh dua petani.

Keterbatasan modal membuat ia harus menunda membeli mesin pompa atau alkon dengan harga Rp1,8 juta untuk mesin kualitas biasa. Keberadaan mesin pompa air milik kelompok cukup membantu meski ia mengungkapkan, harapan petani di wilayah tersebut bisa diberikan fasilitas sumur bor.
“Kita sudah usulkan melalui kelompok tani namun belum ada respon sehingga kami terpaksa mempergunakan mesin pompa,” terang Iwan.
Petani lain bernama Damin menyebut, padi miliknya sudah memasuki masa berisi sehingga sangat butuh air. Sebagai upaya untuk menjaga padi tetap mendapat pasokan air, Damin mengaku, rela mengeluarkan biaya ekstra untuk penyediaan mesin pompa air.
Cara tersebut menjadi pilihan terakhir dibanding membiarkan padi miliknya mengalami kekeringan sehingga dirinya tidak bisa panen. Air yang mengalir dengan debit lebih kecil selama musim kemarau membuat ia harus menunggu bendungan penuh berbagi dengan pemilik sawah di bagian hulu sungai.

Damin juga menyebut, untuk pembelian pupuk dirinya kerap masih menggunakan sistem bayar panen (Yarnen) setelah padi dipanen dan dibeli oleh bos pengepul padi.
“Biaya untuk menanam padi saat kemarau memang lebih tinggi dibandingkan saat hujan namun harapannya hasil panen menguntungkan,” terang Damin.
Dibandingkan sejumlah petani padi lain, Damin mengaku, masih lebih beruntung sebab sebagian lahan pertanian padi masih mengalami kekeringan. Lahan padi di wilayah yang jauh dari jangkauan sungai dan susah melakukan proses pemompaan air, bahkan dibiarkan kering oleh petani.
Meski hujan sempat melanda wilayah tersebut sejak sepekan terakhir, namun Damin menyebut, air hujan belum bisa mengaliri lahan sawah milik petani untuk tanaman padi usia 15 hari setelah tanam.
Air hujan yang sempat mengguyur lahan pertanian di wilayah tersebut susut dan sawah kembali mengalami kekeringan.