Sebagian Petani Kopi di Temanggung Belum Bisa ‘Petik Merah’

ilustrasi Kebun kopi. -Dok: CDN.
TEMANGGUNG – Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, mengimbau para petani kopi untuk melakukan petik merah pada saat memanen kopi, karena hasilnya akan maksimal.
Kepala Bidang Perkebunan, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Temanggung, Untung Prabowo, mengatakan, sekarang trennya lebih banyak ke petik merah, walaupun sebagian belum bisa maksimal untuk petik merah, karena alasan tertentu.
“Mereka yang belum bisa melakukan petik merah, karena alasan ekonomi, yakni ada kebutuhan mendadak, sehingga belum sampai merah kopi sudah dipanen,” katanya, Sabtu (29/9/2018).
Namun, katanya, dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan sudah menyarankan dan meminta, seharusnya kopi itu petik merah, karena kalau petik merah sudah masak optimal.
“Ukurannya kalau di alam, kopi itu sudah disukai oleh luwak. Hal itu salah satu kunci kualitas produksi dari bahan baku dimulai dari petik merah,” katanya.
Ia mengatakan, produktivitas kopi di Temanggung tahun ini rata-rata bisa mencapai 1,5 ton per hektare, karena iklim sangat mendukung untuk tanaman kopi.
Ia menuturkan, harga kopi biji (ose) jenis robusta berkisar Rp23.500 hingga Rp24.000 per kilogram, dan untuk jenis arabika mencapai Rp40.000 hingga Rp45.000 per kilogram.
“Kopi gelondong petik merah untuk robusta berkisar Rp6.000 hingga Rp7.000 per kilogram, namun untuk arabika per kilogram bisa lebih dari Rp7.000,” katanya.
Ia menyebutkan, luas tanaman kopi robusta di Temanggung mencapai 12.000 hektare, sedangkan kopi arabika baru berkisar 2.000 hektare.
Ia mengatakan, kopi robusta banyak ditanam di wilayah Temanggung bagian utara, sedangkan kopi arabika hanya terdapat di beberapa kecamatan, meliputi Kledung, Bulu, Bansari, Tretep, dan Parakan.
Ia menyampaikan, dari luasan tanaman kopi tersebut, sekitar 75-80 persen merupakan tanaman yang menghasilkan, sedangkan sisanya tanaman belum menghasilkan dan tanaman tua atau rusak. (Ant)
Lihat juga...