Pemkab Dorong Kerajinan Badui Tembus Pasar Domestik-Mancanegara

Ilustrasi - Foto:Dokumentasi CDN.

LEBAK — Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Lebak, Banten, mendorong kerajinan Badui menembus pasar sehingga dapat menggulirkan pertumbuhan ekonomi masyarakat setempat.

“Kami bekerja keras agar produk aneka kerajinan Badui menembus pasar domestik hingga mancanegara,” kata Kepala Bidang Industri Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Lebak Herisnen di Lebak, Selasa (4/9/2018).

Pemerintah daerah mengoptimalkan pembinaan agar produk aneka kerajinan Badui memiliki nilai jual di pasaran.

Selain itu juga menyalurkan bantuan peralatan produksi dan mempromosikan melalui even-even kegiatan diantaranya pameran pembangunan di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten dan DKI Jakarta.

Begitu juga kegiatan kementerian dan pengusaha agar produk kerajinan Badui dikenal masyarakat luas.

Saat ini, pelaku usaha kerajinan Badui di kawasan Desa Kanekes Kecamatan Leuwidamar tumbuh dan berkembang. Kebanyakan konsumen itu membeli produk kerajinan Badui untuk dijadikan kenang-kenangan.

“Kami terus menjalin kerja sama untuk mempromosikan produk aneka kerajinan Badui agar dikenal masyarakat luas,” katanya menjelaskan.

Menurut dia, produk aneka kerajinan Badui itu antara lain aneka sovenir, kain tenun, lomar ikat kepala, pakaian batik, tas koja, selendang, samping dan golok.

Produk kerajinan tersebut memiliki nilai seni tradisional karena bahan bakunya terbuat dari alam. Misalnya, kata dia, produk tas koja terbuat dari akar pepohonan yang ada di hutan kawasan Badui.

Begitu pula sovenir gantungan kunci terbuat dari tempurung kelapa, tali ikat tangan dari pohon teurep juga miniatur alat rumah tangga.

Bahkan, pewarna kain tenun menggunakan bahan alami dari pepohonan, sehingga memiliki corak dan warna tersendiri. Harga produk Badui, seperti kain tenun Rp65.000, baju Rp70.000, selendang Rp250.000, tas koja Rp25.000, kopiah Rp15.000, golok Rp300.000, pernak-pernik dari harga Rp15.000, hingga Rp25.000.

“Kami setiap tahun meningkatkan kualitas produk kerajinan Badui agar memiliki kualitas sehingga menjadikan pendapatan tetap masyarakat,” katanya.

Santa (45) seorang perajin warga Badui mengaku dirinya kerapkali mengikuti pameran di berbagai daerah dan banyak produk-produk aneka kerajinan Badui diminati masyarakat. Bahkan, pihaknya belum lama ini mengikuti pameran di DKI Jakarta yang menyelenggarakan kementerian.

“Kami merasa kewalahan melayani pengunjung hingga mendapat omzet mencapai jutaan rupiah,” kata Santa.

Neng (45) seorang pedagang di kawasan Badui mengaku selama Agustus 2018 banyak pengunjung yang datang bersama rombongan membeli beraneka jenis sovenir, pakaian, kaos bertuliskan Badui, kain tenun, golok, tas koja, selendang dan ikat kepala.

Pengunjung menilai, produk-produk Badui sangat alami dan memiliki keunikan tersendiri karena didominasi warna biru dan hitam, seperti pakaian batik, kain tenun, sarung, salendang dan tas koja.

“Kami setiap hari menjual aneka kerajinan Badui di rumah dan pembelinya para pengunjung wisata itu,” katanya. (Ant)

Lihat juga...