Hidrosefalus Bisa Terjadi Pada Orang Dewasa

Editor: Mahadeva WS

Direktur Medis RS Cendana dr. Roslan Yusni, SpBS – foto Ranny Supupepa

JAKARTA – Pernah melihat bayi dengan bentuk kepala membesar, dengan ubun-ubun yang menonjol? Penderita, biasanya juga memiliki mata yang terus menerus memandang ke bawah? Tidak salah lagi, itu adalah gelaja hidrosefalus.

Direktur Medis RS Cendana, dr. Roslan Yusni, SpBS menyebut, hidrosefalus adalah suatu kondisi, dimana ada bendungan atau retensi cairan otak di rongga ventrikel yang bersifat progresif. “Penyebabnya apa? Yang pertama ini ada penyumbatan di saluran, sehingga cairan tidak bisa mengalir keluar. Yang kedua, kelebihan produksi. Yang biasanya 400 cc, karena ada penyakit menjadi dua liter sehari. Yang ketiga, ada gangguan penyerapan pada permukaan otak,” kata dr. Roslan saat ditemui Cendana News, Selasa (18/9/2018).

Cairan di dalam otak, atau yang dalam ilmu medis disebut cairan serebrospinal, dihasilkan oleh pleksus choriodeus ventriculus lateralis. Cairan tersebut memiliki fungsi sebagai peredam mekanis terhadap kejut. Sehingga, jika seseorang mengalami benturan pada bagian kepala, maka cairan ini akan bertindak sebagai bantal yang meminimalisir atau mengurangi efek cedera dari benturan tersebut.

Terbendungnya cairan dalam otak ini, memiliki pengaruh yang besar bagi perkembangan fisik maupun intelektual penderitanya. Belum lagi, jika penyakit tersebut memiliki komplikasi yang serius. “Tindakan pada bayi yang dideteksi hidrosefalus dapat langsung dilakukan setelah bayi itu lahir. Jadi secepatnya saja,” kata dr.Roslan.

Faktor pemicu hidrosefalus sangat banyak. Gejalanya bisa terjadi pada semua rentang usia. Walaupun memang kasus yang paling banyak terekspos adalah pada bayi atau anak kecil. “Ada yang didapat dari sejak lahir, misalnya karena cacat bawaan, dimana tulang belakang tidak menutup. Atau adanya infeksi selama kehamilan. Pendarahan di otak dan trauma kepala yang diakibatkan oleh cidera yang terjadi selama proses mekahirkan attau setelahnya, juga bisa memicu hidrosefalus. Atau ada tumor di sistem saraf pusat,” tuturnya.

Pada orang dewasa, hidrosefalus bisa terjadi jika orang itu mengalami infeksi yang berhubungan dengan otak, seperti meningitis. Atau mengalami cidera kepala, pendarahan dari pembuluh darah di otak atau akibat proses operasi di otak. “Gejala yang muncul itu biasanya adanya nyeri kepala yang tidak biasa, yang disertai muntah-muntah. Jadi kalau ada nyeri yang tidak biasa, sebaiknya langsung diperiksakan ke petugas medis. Sehingga bisa dideteksi penyebabnya secara dini. Karena kalau pada bayi, tulangnya masih lunak maka saat ada penimbunan cairan maka akan mebesar. Tapi pada orang dewasa yang tulangnya sudah lebih keras, maka cairan ini akan menekan otak. Dan ini bisa menyebabkan kematian,” tandas dr.Roslan.

Tindakan yang biasa diambil bagi penderita hidrosefalus adalah penanaman selang yang berfungsi untuk mengalirkan keluar cairan yang ada di otak. “Selang ini akan ditempatkan dibawah kulit. Cairannya akan dialirkan ke perut atau ruang lain di dalam hati. Biasanya, selang ini akan dipakai selamanya,” kata dr. Roslan.

Penderita hidrosefalus, menurut dr. Roslan, dapat hidup dengan normal. Jika memang tidak terjadi disfungsi fungsi otak. “Ada pasien hidrosefalus yang sekarang malah jadi dokter bedah. Jadi, menderita hidrosefalus bukannya tidak bisa hidup dengan normal, bisa saja. Memang ada beberapa kasus, yang kasus hidrosefalusnya memiliki keterkaitan dengan fungsi otak. Tapi bukan berarti setiap penyakit hidrosefalus itu akan mengalami kelainan otak ya,” kata dr. Roslan dengan tegas.

Lihat juga...