Sekolah Lima Hari Perkuat Karakter Siswa
Editor: Satmoko Budi Santoso
LAMPUNG – Penerapan kegiatan belajar mengajar yang digelar selama lima hari mulai Senin hingga Jumat dan memakan waktu delapan jam mulai diterapkan di SDN 3 Pasuruan Kecamatan Penengahan, Kabupaten Lampung Selatan.
Herianto, Kepala Sekolah SDN 3 Pasuruan menyebut, butuh sosialisasi dan pemahaman bagi orang tua wali murid terkait pola penerapan sistem tersebut.
Herianto memastikan, model pembelajaran dengan sistem lima hari sekolah masih kerap disebut full day school. Awalnya, ia menyebut, banyak orangtua wali murid yang belum memahami sistem kegiatan belajar mengajar yang sudah terlanjur dikenal dengan full day school.

“Saat pertemuan dengan para orangtua, kami jelaskan sekolah yang diterapkan bukan full day school melainkan untuk penguatan karakter siswa dan para orangtua mulai memahami bahkan sangat mendukung,” terang Herianto, Kepala Sekolah SDN 3 Pasuruan, Kecamatan Penengahan, saat ditemui Cendana News, Kamis (23/8/2018).
Pelaksanaan sekolah lima hari, disebut Herianto, mengacu dengan petunjuk teknis dan petunjuk pelaksanaan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Sebagai upaya membentuk karakter siswa tersebut, pihak SDN 3 Pasuruan sudah menyiapkan sejumlah fasilitas pengembangan karakter.
Sanggar kesenian, area bermain yang luas, fasilitas musala serta lingkungan sekolah yang mendukung kegiatan belajar mengajar lima hari.
Pelaksanaan sekolah lima hari dilakukan setiap hari mulai pukul 07.15 WIB dan siswa pulang jam 15.00 WIB. Sebagai upaya membentuk karakter siswa sebelum kegiatan belajar mengajar di kelas bagi siswa yang beragama Islam diberi waktu untuk membaca Alquran.

“Karena fasilitas musala yang dimiliki sekolah masih terbatas, salat berjamaah dilakukan bergantian antara siswa laki-laki dan siswa perempuan,” terang Herianto.
Waktu salat yang didahulukan bagi siswa laki-laki dipergunakan oleh siswa perempuan untuk melakukan kegiatan makan siang. Setelah siswa laki-laki selesai melakukan salat, bergantian siswa perempuan menjalankan ibadah salat dan siswa laki-laki makan siang.
Sesuai dengan kesepakatan dengan orangtua siswa selama pelaksanaan sekolah lima hari siswa diwajibkan membawa bekal dari rumah.
Instruksi membawa bekal dari rumah, diakui Herianto, diterapkan bagi sebanyak 195 siswa di sekolah dengan sebanyak 9 rombongan belajar atau kelas. Membawa bekal dari rumah selain meminimalisir siswa jajan sembarangan, sekaligus menjaga makanan tetap higienis dan sehat hasil masakan dari orangtua.
Sistem tersebut juga kadang menumbuhkan kebersamaan antarsiswa karena kegiatan makan bersama siswa bisa saling berbagi lauk sehingga membentuk karakter siswa agar bisa berbagi.
Kegiatan lain seusai jam pelajaran tidak hanya mengikuti pelajaran terus melainkan sejumlah ekstrakurikuler. SDN 3 Pasuruan memiliki ekstrakurikuler unggulan di antaranya drumband, seni teater, seni tari dan kegiatan lain yang bisa dilakukan selama kegiatan lima hari sekolah.
Meski sistem tersebut masih baru namun ia memastikan siswa sudah mulai bisa mengikuti kegiatan belajar mengajar hingga sore.
Jimi, salah satu siswa kelas 6 SDN 3 Pasuruan mengaku, awalnya masih belum terbiasa mengikuti kegiatan belajar mengajar yang dikenal dengan full day school. Kekhawatiran dari orangtua bahwa waktu ibadah salat akan terabaikan tidak terjadi karena dengan sistem lima hari sekolah ia bersama kawan sekolah bisa lebih rajin ibadah salat berjamaah.
Waktu salat berjamaah di sekolah, disebut Jimi, dilakukan secara bergantian dengan siswa perempuan dengan keterbatasan musala yang ada.
Selain ibadah untuk membentuk karakter keagamaan siswa, para siswa bisa menjalankan kegiatan ekstrakurikuler dengan baik. Sebab selama ini siswa harus terlebih dahulu pulang ke rumah dan kembali ke sekolah untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler.
Namun kini saat semua kegiatan ekstrakurikuler sudah dilakukan, usai kegiatan belajar mengajar siswa bisa pulang ke rumah tanpa harus kembali ke sekolah.