Kader Posdaya Imbau tak Buang Sampah di Danau Singkarak

Editor: Satmoko Budi Santoso

SOLOK – Hingga kini kondisi Danau Singkarak yang berada di Kabupaten Solok, Sumatera Barat, masih saja difungsikan sebagian masyarakat sebagai lokasi pembuangan sampah.

Tercatat Batang Lembang yang berhulu dari perbukitan dan perkampungan sekitar Kota Solok serta kawasan Kabupaten Solok bagian barat terus dijadikan masyarakat sebagai pembuangan sampah gratis sejak dulunya.

Problema persampahan yang mencemarkan Danau Singkarak sudah sering jadi pembicaraan beragam lembaga pemerintahan, lembaga swadaya masyarakat dan banyak pihak, namun tradisi buruk masyarakat mengirim sampah melalui sungai besar dan kecil untuk dibenamkan ke Danau Singkarak tetap saja berlangsung.

Ketua Harian LKKS Sumatra Barat, Parlagutan Nasution/Foto: M Noli Hendra

Dilihat secara acak, Danau Singkarak tampak begitu indah dengan permukaan danau yang selalu menghijau, terkadang diselimuti kabut. Tapi, kalau dilihat dari dekat, terutama ke muara sungai, besar dan kecil yang mengarah ke danau ini, sungguh luar biasa sampahnya. Berton-ton sampah hanyut ke danau tiap hari. Jelas sangat mengganggu kelestarian danau.

Bahkan ikan ‘bilih’ Danau Singkarak boleh disebut di ambang kepunahan karena korban keracunan berton-ton sampah yang dikirim masyarakat yang tidak mencintai Danau Singkarak asri dengan ‘bilih’ tersebut.

Paling getol membicarakan persampahan mencemarkan Danau Singkarak hanya kalangan Perusahaan Listrik Negara (PLN), sebab air Danau Singkarak merupakan sumber pemutaran turbin PLTA untuk penerangan sebagian kawasan Sumatra Barat.

Kondisi ini bertitik tolak dari problema pencemaran bersumber dari sampah yang menghantui danau itu, juga dibicarakan kalangan warga kebanyakan yang tergabung dalam anggota Posdaya di Kabupaten Solok.

Seorang wanita muda Nurbaya, yang merupakan kader Posdaya Singkarak, mengemukakan, persoalan menggelitik kalangan pemerintahan supaya punya perhatian sungguh-sungguh melestarikan Danau Singkarak. Tidak lagi mengirimkan sampah melalui sungai yang bermuara ke danau tersebut.

Untuk itu, sudah sangat pantas seluruh warga bertekad menjaga kebersihan secara maksimal. Bahkan sangat baik sampah yang begitu banyak dihasilkan penduduk diolah sesuai dengan peruntukannya. Dijadikan kompos, khusus sampah basah dan sampah kayu serta plastik disesuaikan dengan pemanfaatannya.

Pada momen pertemuan 10 kelompok Posdaya beranggotakan 100 orang di Solok beberapa waktu lalu, mayoritas mengharapkan agar masyarakat Solok dan sekitarnya menggalakkan pengolahan sampah. Tidak lagi dibuang merusak lingkungan.

Pendidikan keterampilan berkaitan dengan pengolahan sampah tersebut diharapkan jadi program unggulan pemerintahan jorong, kenagarian dan kecamatan yang selama ini warganya mengirim sampah ke Danau Singkarak. Penggeraknya adalah tenaga Posdaya yang ada di setiap kenagarian.

“Silakan Posdaya seayun selangkah dengan lembaga pemerintahan berkaitan dengan persampahan ini,” kata Parlagutan Nasution, Ketua Harian Lembaga Koordinasi Kesejahteraan Sosial (LKKS) Sumatra Barat, Kamis (23/8/2018).

LKKS mengaku, merasa kagum menyaksikan antusias pemikiran disampaikan anggota Posdaya tersebut. Ia melihat begitu segar pemikiran mereka berkaitan dengan lingkungan Danau Singkarak yang mulai tercemar tersebut.

“Termasuk pemikiran lainnya, berkaitan dengan keagamaan, penduduk, sosial, budaya, pendidikan, dan lainnya,” ujarnya.

Menurutnya, bagaimanapun juga, seluruh anggota Posdaya harus selalu kreatif dan jangan sampai ada yang melakukan perceraian karena alasan ekonomi. Untuk itu, wanita Posdaya harus bekerja mencari nafkah.

Hal ini mengingat tidak zamannya lagi wanita hanya aktif di dapur, sumur dan kasur saja. Semuanya harus bekerja mencari rezeki.

Lihat juga...