JAKARTA – Sammaria Simanjuntak, sutradara muda berbakat. Karya-karya filmnya, antara lain cin(T)a (2009) dan Demi Ucok (2013) mendapat sambutan baik dari masyarakat, bahkan meraih berbagai penghargaan festival film, seperti Festival Film Indonesia (FFI) 2012, Indonesian Movie Awards (IMA) 2013 dan Piala Maya 2013.
Film terbaru yang digarapnya berjudul ‘Sesat: Yang Sudah Pergi Jangan Dipanggil Lagi’, produksi Rapi Films, berkisah sebuah desa terpencil di tengah hutan yang terdapat sumur keramat penyebar malapetaka.
“Sebuah kehormatan bagi saya, mendapat kesempatan untuk menyutradarai film ini,“ kata Sammaria Simanjuntak, dalam acara press screening film Sesat di Epicentrum XXI, Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (16/8/2018).
Perempuan kelahiran Bandung, 4 Mei 1983, itu membeberkan, kalau benar-benar ditawari Sunil Samtani, produser Rapi Films, untuk menggarap film apa saja, pastinya akan ia terima dengan senang hati.
“Referensi dari Joko Anwar, bahwa Pak Sunil itu produser yang sangat baik, kalau tidak bisa kerja sama dengan Pak Sunil tentu tidak akan bisa kerja sama dengan produser lain,” beber sineas yang meraih gelar Sarjana Teknik bidang Teknik Arsitektur dari Institut Teknologi Bandung pada 2006.
Selama syuting film, Sammaria mengaku senang sekali dan bersyukur, karena bertemu dengan produser dan parter yang punya kesamaan misi dan visi serta bisa memberi dukungan yang sangat berarti.
“Sebab, kalau produsernya tidak punya misi dan visi, sutradara sehebat apa pun tentu penggarapan filmnya tidak akan maksimal, jadi saya mengucapkan terima kasih pada Pak Sunil yang memberi dukungan penuh,“ tutur sineas yang pernah mendirikan sebuah rumah produksi film bernama PT Kepompong Gendut.
Sammaria mengaku, film-film garapan sebelumnya dikategorikan film indie, yang semuanya dikerjakan sendiri. “Ini pertama kali saya punya produser, karena film sebelumnya semua dikerjakan sendiri, dan di sini saya bisa konsentrasi pada proses kreatif pembuatan film ini,“ ungkapnya penuh percaya diri.
Menurut Sammaria, film ini inspirasinya dari hal-hal di sekitar kita, tapi sengaja dibuat nama baru dan daerah baru, karena tidak ingin menyinggung aliran kepercayaan siapa pun dan daerah mana pun.
“Tapi, tentunya tetap relevan dengan masyarakat kita, karena inspirasinya memang dari hal-hal di sekitar kita,“ terangnya.
Sammaria menyebut, film ini termasuk yang paling cepat dikerjakan. “Draf penulisan skenario film sampai 11 draf jadi sekitar 10 kali revisi, sewaktu penulisan draf kedua sudah mulai casting, dan kemudian penulisan skenario berikutnya disesuaikan dengan hasil casting,“ tegasnya.
Proses reading-nya juga dianggap Sammaria termasuk sangat cepat, sekitar satu bulan. “Karena para pemainnya memang bagus-bagus banget, jadi mempermudah proses penggarapan film ini,“ tandasnya.