Mety Choa, Perancang Busana Anggun di Pembukaan Asian Games
JAKARTA — Penyanyi Anggun C. Sasmi tampil memukau dalam pembukaan Asian Games 2018 beberapa waktu lalu. Bukan hanya dari sisi teknik vokalnya, tetapi juga busana yang dia kenakan saat itu.
Sang diva mengenakan busana karya perancang asal Solo yang sudah dikenal selebriti Tanah Air dan Hollywood, Mety Choa. Dia menyebut busana karya Mety ini sebagai “Kemben Jawa” versi modern.
Melalui akun twitternya, Anggun menuturkan tampilannya malam itu mengingatkan pada sosok Nyai Roro Kidul, ratu laut dalam mitologi Jawa. Dia melengkapi penampilannya dengan mahkota berwarna senada dengan “Kemben Jawa” versi modernnya. Mahkota itu merupakan karya Rinaldy Yunardi.
Sementara itu, menjawab pertanyaan dari mana datangya inspirasi menciptakan busana untuk Anggun di pembukaan Asian Games 2018, Mety Choa menyebut inspirasi busana berasal dari Anggun sendiri. Dia ingin gaun yang bisa merefleksikan sisi Jawa-nya melalui kemben Jawa.
“Kreasi busana ini juga dibantu The Clique, konsultan PR di Hong Kong. Di tengah jadwal yang padat, kami mengatur strategi agar target tercapai tepat waktu,” kata Mety melalui surat elektroniknya, Rabu (22/8/2018).
Pengerjaannya relatif singkat, kurang dari satu bulan untuk mengembangkan konsep dan desain. Mety mengaku tidak ada permintaan khusus dari Anggun, namun Anggun ingin gaunnya ini menjadi masterpiece yang bisa mewakili dia dan Indonesia. Ini bisa dipahami karena untuk acara besar seperti Asian Games.
Bagi Mety, sebuah masterpiece seharusnya tidak hanya terlihat bagus tetapi juga mengandung nilai sejarah. Jadi orang-orang bisa ingat dan mengapresiasinya.
Lantas warna busananya yang keemasan, apakah melambangkan harapan Indonesia bisa menyabet emas di Asian Games 2018? Bagi Mety, soal warna, tak ada yang lebih baik dari emas yang merepresentasikan medali sebagai simbol kemenangan.
“Apapun bahasa kita, emas berarti kemenangan. Menurut saya, siapapun yang berpartisipasi dalam Asian Games 2018 berharap menang. Warna emas secara sederhana menyimbolkan semangat itu,” tuturnya.
Mety mengaku dirinya gembira saat melihat Anggun mengenakan busana karyanya, terutama saat dia menyanyikan lagu “Pemuda”.
“Ada energi positif yang belum pernah saya rasakan sebelumnya selama upacara. Ribuan orang dari berbagai kalangan datang ke perhelatan itu dengan visi yang sama. Semua orang ingin memberikan yang terbaik dan mereka melakukannya. Saya bangga menjadi orang Indonesia,” sebutnya.
Karya Mety sudah dikenal selebiriti mancanegara, dan sudah mengikuti berbagai acara fashion show di luar negeri. Target Mety selanjutnya adalah berusaha bertransformasi secara internasional, dengan menghadirkan daya tarik yang lebih chic dan modern selepas mengubah merek menjadi Maison Met agar bisa berkembang lebih lanjut dalam skala global.
“Berbicara mengenai rencana saya ke depan, tentu saya punya banyak target dan berharap bisa terwujud. Di 2017, saya memutuskan mengubah merek saya, yang sekarang menjadi Maison Met. Ini juga bersamaan dengan New York Coulture Fashion Week, yang sekaligus menandai bergabungnya saya dengan The Clique,” tuturnya.
Baru-baru ini Mety berkesempatan memilihkan busana untuk aktris dan super model Hong Kong, Janice Man yang juga menjadi wajah Louis Vuitton, aktris pendatang baru Larine Tang, yang masuk dalam nominasi kategori Best New Performer di Hong Kong Film Awards ke-37, lalu Putri Georgia selama perjalanan Mety ke Georgia, tentu ini sebuah kehormatan.
“Satu mimpi saya saat ini adalah menandai misi saya di industri fesyen. Saya berusaha bertransformasi secara internasional dan untuk klien kami. Dengan daya tarik yang lebih chic dan modern, perubahan merek menjadi Maison Met akan menjadi langkah penting yang bisa merefleksikan fokus kami agar bisa berkembang dalam skala global,” tutur Mety.
Ini juga akan merefleksikan desain Mety yang saat ini cenderung menggunakan draping modern, menekankan esensi cantik yang sederhana. (Ant)