Inflasi di Purwokerto-Cilacap Terjaga
PURWOKERTO – Inflasi di Purwokerto dan Cilacap, Jawa Tengah, masih terjaga selama semester pertama 2018. Inflasi di Purwokerto dan Cilacap masih di kisaran angka dua persen, sehingga masih tergolong aman.
“Secara keseluruhan kalau dibandingkan dengan Jawa Tengah, kalau (Bank Indonesia) Purwokerto kan ada dua daerah menjadi share terhadap inflasi di Jawa Tengah, bisa kami bilang relatif terjaga secara umum,” ungkap Detasir Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Purwokerto Andi Reina Sari, Rabu (8/8/2018).
Jika dalam lima bulan berikutnya bisa terjaga, diyakini kondisinya bisa lebih aman. “Kemarin (Juli) inflasi di kota Purwokerto dan Cilacap, di bawah Semarang. Inflasi di Jawa Tengah 0,1 persen, sedangkan Semarang 0,11 persen, Purwokerto 0,08 persen, dan Cilacap 0,09 persen, mudah-mudahan ke depan makin bisa dijaga,” tambahnya.
Reina menyebut, faktor penyumbang inflasi Juli di enam kota, hasil survei biaya hidup (SBH) di Jawa Tengah hampir seragam. Juli 2018, masih dipengaruhi dampak pascalebaran, sehingga faktor penyumbang inflasi-nya adalah kenaikan upah pembantu rumah tangga. “Kalau tidak (upahnya) dinaikkan, pembantunya tidak mau balik (bekerja),” katanya.
Selain itu, Juli merupakan tahun ajaran baru di sekolah atau perguruan tinggi, biaya pendidikan juga turut menyumbang inflasi. Bahkan, biaya pendidikan diprediksi masih akan menjadi penyumbang inflasi pada Agustus dan September, karena sampai sekarang belum seluruhnya masuk sekolah atau kuliah.
“Kemarin juga pada awal bulan ada pengaruh kenaikan harga pertamax atau BBM. Kalau komoditas pangan, kemarin yang agak naik itu harga telur dan daging ayam, akibat ada pembaruan bibit tapi mudah-mudahan ke depan pemerintah sudah mengantisipasi,” pungkasnya. (Ant)