Idul Adha, Umat Muslim Bali Padati Masjid Muhamad

Editor: Satmoko Budi Santoso

DENPASAR – Umat muslim di Bali hari ini serentak melaksanakan salat Idul Adha 1439 Hijrah. Beberapa masjid dan lapangan di beberapa tempat di Bali terlihat dipenuhi jamaah untuk salat sunnah tersebut.

Seperti yang terlihat di Masjid Muhammad, salah satu masjid terbesar Kota Denpasar, misalnya, sejak pagi ribuan masyarakat datang berbondong-bondong ke masjid.

Bahkan luasnya lahan parkir yang sudah disediakan oleh takmir masjid tidak cukup untuk menampung kendaraan baik roda dua maupun roda empat yang dibawa oleh setiap jamaah.

Akibatnya, beberapa kendaraan terpaksa harus diparkir di luar dan sepanjang Jalan Imam Bonjol Denpasar.

Tak hanya itu, kepadatan juga terjadi di dalam masjid. Masjid berlantai dua dengan kapasitas daya tampung sekitar 7.500 tidak mampu menampung para jamaah. Akibatnya, mereka diarahkan dan disediakan untuk membuat shaf baru di luar masjid.

Suherman, Pengurus Takmir Masjid Muhammad, Kota Denpasar. -Foto:Sultan Anshori.

“Alhamdulillah jamaah salat Idul Adha tahun ini ramai, Mas. Bahkan melebar hingga ke halaman belakang masjid yang berjarak puluhan meter dari masjid,” ucap Suherman yang merupakan pengurus takmir Masjid Muhammad Kota Denpasar, saat ditemui, Rabu (22/8/2018).

Suherman menceritakan, sejak dibangun sekitar 3 tahun lalu, jamah Masjid Muhammad kian hari kian bertambah. Terutama waktu hari raya besar seperti hari raya Idul Fitri dan Idul Adha seperti. Pihaknya selaku pengurus masjid sudah berusaha memberikan pelayanan terbaik bagi para jamaah.

“Kita juga sudah bentuk tim parkir untuk bisa membantu para jamaah saat menjalankan salat wajib maupun salat sunnah di masjid kita ini,” kata Suherman lagi.

Untuk tahun ini, Masjid Muhammad menyiapkan kurban sebanyak 13 ekor sapi dan 26 ekor kambing. Selain itu, pihaknya juga melakukan kerja sama dengan Forum Me-DAN yang tergabung dalam kurban kolektif untuk melakukan pemotongan hewan kurban ke beberapa tempat lain di luar masjid, seperti di Jembrana bahkan hingga ke Lombok.

“Ya sebagian kita arahkan ke sana untuk memeratakan pembagian daging kurban. Apalagi saat ini, saudara kita di Lombok juga terkena musibah gempa. Ya diharapkan bisa membantu mereka,” kata pria asli Jawa Tengah ini.

Sementara itu, menurut ustad Syahrullah Hamid, hari raya kurban haruslah dimaknai sebagai proses untuk belajar ikhlas dalam segala hal. Hal itu bisa dilihat dari sejarah para nabi dan rasul serta para sahabat yang berani mengorbankan segalanya. Baik harta benda, jiwa raga bahkan nyawa untuk mendapatkan keridhaan Allah SWT.

“Selanjutnya mari kita lihat pada diri kita sendiri, apakah kita sudah sampai dan diridai oleh-Nya,” ucap Ustad Syahrullah Hamid, dalam khotbahnya.

 

Lihat juga...