Gerakan 1.000 Jamban di Sumatera Barat Belum Merata
Redaktur: ME. Bijo Dirajo
PADANG — Program 1.000 jamban yang dimotori oleh Lembaga Koordinasi Kesejahteraan Sosial (LKKS) Provinsi Sumatera Barat melalui bantuan dari Yayasan Damandiri, telah memberikan dampak yang positif bagi kesehatan masyarakat. Terutama bagi yang telah beralih mengubah kebiasaan, dari membuang air besar sembarangan, kini telah memiliki jamban.
Ketua LKKS Provinsi Sumatera Barat, Nevi Zuairina mengatakan, hingga Agustus 2018, 1.000 jamban yang dibantu oleh Yayasan Damandiri telah direalisasikan seluruhnya di 19 kabupaten dan kota di Sumatera Barat untuk masyarakat yang tergolong kurang mampu.
“Realisasi penyerahan bantuan jamban telah selesai dilakukan oleh LKKS. Hal ini tidak terlepas dari bantuan yang diberikan Yayasan Damandiri yang menjadi lembaga yang peduli terhadap masyarakat yang kurang mampu,” katanya, Kamis (16/8/2018).
Namun, Nevi menyebutkan, 1.000 jamban yang telah direalisasikan itu belum bisa diberikan secara merata, karena persentase masyarakat yang masih buang air besar sembarangan cukup tinggi, dan tidak sebanding dengan bantuan yang ada tersebut.
Bahkan, tak dapat dipungkiri banyak dari masyarakat yang belum mendapatkan bantuan. Karena hal ini menunjukan, cukup besar dan antusias masyarakat kurang mampu yang berharap adanya bantuan tersebut.
Menurutnya, idealnya jumlah bantuan di angka 5.000 – 10.000. Alasannya, di satu kabupaten atau kota saja, kebutuhan mencapai ratusan ribu. Namun saat ini, bantuan yang diberikan untuk satu kabupaten atau kota baru puluhan.
Ia mengharapkan, pada 2019 mendatang, Yayasan Damandiri dapat meningkatkan jumlah bantuan. Sehingga pemerataan terhadap masyarakat kurang mampu jadi terwujud.
“Kita akan sampaikan kondisi ini ke Yayasan Damandiri. Jika diminta untuk membuat proposal, maka kita dari LKKS akan mempersiapkan itu. Kapanpun diminta proposalnya, LKKS siap,” ucapnya.
Kalau bicara dukungan lain, soal semen ditanggung oleh PT. Semen Padang, dan upah tukang juga akan ditanggung oleh Badan Amil Zakat. Artinya, perlu membantu masyarakat kurang mampu untuk merasakan hidup sehat, salah satunya dengan miliki jamban di rumahnya.
Nevi mengakui semenjak adanya bantuan 1.000 jamban itu, kondisi kebersihan lingkungan jadi tercipta. Selain merasakan dampak kesehatan, secara tidak langsung kegiatan telah turut mengangkat kepercayaan diri masyarakat dalam hal fasilitas kebersihan di rumahnya.
Ia juga menceritakan ketika penyerahan bantuan yang terakhir di Kabupaten Pasaman kemarin di Nagari Ganggo Mudiak, Kecamatan Bonjol. Banyak pengakuan masyarakat di sana, menginginkan rumahnya segera dibangun jamban dari bantuan Yayasan Damandiri tersebut.
“Di Pasaman kemarin itu saya melakukan peletakan batu pertama yang menandakan telah dimulainya pembangunan 100 jamban untuk keluarga miskin di empat nagari di Kabupaten Pasaman yaitu 25 di Nagari Ganggo Mudiak, Bonjol, 25 di Nagari Sundatar, Lubuksikaping, 30 di Nagari Panti, Kecamatan Panti dan 20 lagi di Nagari Lubuk Layang, Rao Selatan,” jelasnya.
Terkait ungkapan Nevi tentang jumlah bantuan yang tidak sebanding dengan kondisi masyarakat yang membutuhkan, terlihat pada data Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM)- Smart, Provinsi Sumatera Barat masih tercatat besaran 22,27 persen atau sebanyak 1.198.588 jiwa, masih melakukan membuang air besar sembarangan.