Embung Muara Piluk, Dukung Penghijauan Kawasan Pelabuhan

Editor: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Dampak kemarau, kebutuhan pasokan air terus berkurang di sejumlah wilayah di Kabupaten Lampung Selatan.

Sejumlah sungai yang kering berdampak lahan pertanian tidak berproduksi termasuk lahan pertambakan udang vaname. Meski kemarau melanda namun kawasan Muara Piluk Bakauheni tepatnya di wilayah pelabuhan PT Bandar Bakau Jaya (BBJ) tetap terlihat menghijau dan asri.

Darmawan, petugas pemelihara taman di kawasan pelabuhan PT BBJ menyebut, pasokan air embung Muara Piluk mencukupi untuk penyiraman sejumlah pohon di wilayah tersebut.

Berbagai vegetasi lingkungan air bahkan tumbuh subur di sekitar embung di antaranya pandan air, cemara udang, berbagai jenis pohon serta menjadi habitat burung air.

Darmawan melakukan proses penyiraman berbagai jenis tanaman selama musim kemarau [Foto: Henk Widi]
“Awalnya pasokan air di wilayah ini cukup sulit bahkan harus membeli air dari PDAM Bakauheni namun karena membuat sumur bor, pasokan air lancar, bahkan saat kemarau,” terang Darmawan, petugas pemelihara taman di pelabuhan Bandar Bakau Jaya, saat ditemui Cendana News, Rabu (15/8/2018).

Upaya menjaga lingkungan kawasan Muara Piluk khususnya di area pelabuhan Bandar Bakau Jaya disebutnya dengan memelihara pohon. Memasuki kawasan tersebut, ratusan pohon cemara udang terlihat berjajar rapi menghijau meski kemarau melanda.

Pada bagian tepi jalan, sejumlah pohon jati bahkan di antaranya berusia puluhan tahun masih dipertahankan sebagai sarana untuk penghijauan.

Keberadaan embung yang terbagi dalam tiga petak, disebut Darmawan, bahkan bisa dimanfaatkan warga. Pemanfaatan bagi warga tersebut karena pada embung ditebar ribuan ekor benih ikan mujair dan nila yang terus berkembang.

Selain ikan mujair dan nila vegetasi tanaman pohon bakau yang masih tumbuh alami di kawasan embung bahkan menjadi habitat kepiting dan udang.

“Warga diperbolehkan melakukan penangkapan ikan dengan cara memancing serta tidak merusak habitat yang ada,” beber Darmawan.

Vegetasi tanaman mangrove di sisi timur kawasan Bandar Bakau Jaya yang masih menghijau menjadi habitat berbagai jenis burung termasuk bangau [Foto: Henk Widi]
Keberadaan embung serta pasokan air yang berlimpah saat kemarau bahkan menguntungkan peternak. Keberadaan sejumlah rumput hijauan di kawasan tersebut, diakui Darmawan, kerap digunakan untuk mencari pakan.

Meski demikian, kawasan tersebut tidak pernah digunakan untuk melakukan kegiatan penggembalaan ternak meski dekat dengan areal persawahan.

Selain keberadaan embung dengan pasokan air berasal dari limpasan air sumur bor, kawasan tersebut juga menjadi tempat mengalir dua sungai. Sungai Muara Bakau yang masih mengalirkan air dan sungai kecil Muara Piluk bahkan masih tetap mengalir ketika kemarau.

Pasokan air yang bertemu dengan air laut di pantai timur menjadi muara tempat tumbuh subur vegetasi hutan mangrove atau bakau.

Darmawan bahkan menyebut, meski sebagian vegetasi pohon bakau di wilayah tersebut telah hilang, namun penamaan Bakauheni tak lepas dari keberadaan pohon Bakau. Bakauheni disebutnya berasal dari kata Bakau (pohon bakau) serta Heuni (burung bangau).

Sebab awal mula kawasan hutan bakau di wilayah tersebut menjadi habitat burung bangau. Sejumlah kawasan pohon bakau yang dipertahankan di sepanjang Pegantungan, Muara Bakau, Muara Piluk, Keramat bahkan masih menjadi habitat berbagai satwa termasuk bangau.

“Pada sisi timur masih terjaga kawasan vegetasi hutan mangrove, bisa menjadi penghalang saat badai, di sisi barat embung untuk menampung air juga terpelihara,” beber Darmawan.

Terjaganya pepohonan di kawasan Muara Piluk tersebut terlihat dengan masih menghijaunya berbagai jenis tanaman bunga. Sejumlah tanaman bunga dan pohon kayu  masih terlihat menghijau meski di beberapa wilayah sudah meranggas akibat kekeringan.

Sistem penyiraman rutin memanfaatkan air dari tandon air dilakukan setiap pagi dan sore menghindari berbagai jenis bunga di taman layu dan mati.

Hendra, salah satu warga Muara Bakau menyebut, keberadaan kawasan PT Bandar Bakau Jaya yang menghijau menjadi oase bagi warga. Kawasan yang menghijau tersebut menjadi kontras dengan sejumlah kawasan di wilayah Bakauheni yang sudah mengalami kekeringan bahkan kesulitan air bersih.

Ia menyebut, terjaganya air dari sumur bor dan limpasan air ditampung pada embung seluas lima hektar lebih membuat warga bisa ikut memanfaatkannya.

Akses masuk ke kawasan pelabuhan Bandar Bakau Jaya terlihat masih asri dengan tanaman cemara laut dan cemara udang yang menghijau [Foto: Henk Widi]
“Saat kondisi panas kami bisa melakukan rekreasi sembari memancing menikmati suasana lingkungan yang asri,” beber Hendra.

Keberadaan embung yang menjadi habitat untuk berbagai jenis ikan bahkan menjadi sumber lauk bagi warga. Ia menyebut, warga tidak dilarang melakukan proses pemancingan ikan mujair dan nila di wilayah tersebut selama menggunakan alat tangkap ikan tradisional.

Pada sisi timur yang berada di dekat pepohonan bakau, sejumlah warga bahkan bisa mencari udang dan kepiting bakau.

Lihat juga...