LAMPUNG – Tangkapan teri di perairan Lampung Selatan dalam kurun tiga bulan terakhir mengalami penurunan.
Kondisi tersebut dibenarkan oleh Misri Saifulah (47) salah satu nelayan yang kini menjadi produsen teri rebus di Kelurahan Way Urang, Kecamatan Kalianda.
Misri menyebut, sebelumnya ia bisa memproduksi sebanyak 2 ton kilogram teri jengki dan teri nasi. Namun kini hanya mampu memproduksi 1 ton.
Misri menyebut, salah satu faktor penurunan pasokan bahan baku teri dipengaruhi oleh kondisi cuaca tidak bersahabat, aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK). Cuaca tidak bersahabat disebutnya berupa angin kencang dan gelombang tinggi yang berimbas nelayan bagan apung, bagan congkel dan bagan mini, mengurangi aktivitas.

Misri Saifulah menuturkan, bahan baku teri jenis jengki dan teri nasi didatangkan dari puluhan nelayan pemilik bagan. Karyawan pengepul akan mendatangi nelayan dengan perolehan teri jengki dan teri nasi cukup beragam.
Sejumlah nelayan, diakuinya, bisa memperoleh sekitar 10 hingga 20 cekeng (keranjang) meski saat kondisi normal bisa mencapai 40 hingga 60 cekeng. Satu cekeng rata-rata berisi sebanyak 15 kilogram teri sehingga ia harus mencari dari sejumlah nelayan.
“Nelayan yang mencari ikan teri merupakan nelayan binaan dengan modal mencari ikan. Biasanya saya talangi terlebih dahulu dan hasilnya dijual kepada saya untuk dijadikan teri rebus,” terang Misri Saifulah, salah satu produsen teri rebus di Kecamatan Kalianda, saat ditemui Cendana News, Senin (20/8/2018).

Imbasnya, nelayan teri terpaksa mencari wilayah tangkapan lebih jauh di sekitar Pulau Legundi meski terkadang hasil tangkapan minim.
Tangkapan ikan teri yang minim tersebut, membuat sejumlah nelayan mulai menaikkan harga teri jengki dan teri nasi. Saat kondisi tangkapan melimpah, Misri mengaku, membeli teri ukuran satu cekeng berisi 15 kilogram seharga Rp180.000.
Dalam tiga bulan terakhir, selain kondisi cuaca dan aktivitas GAK, harga teri ikut merangkak naik menjadi Rp210.000 per cekeng bahkan Rp230.000 di pasaran umum.
Harga di pasaran umum merupakan harga yang dibeli oleh para pelele (pedagang ikan) dengan sistem jual terputus. Misri menyebut, harga bisa berbeda dengan pasaran umum sebab nelayan binaan mengandalkan modal darinya.
Jenis teri nasi yang lebih kecil dan sulit ditangkap. Misri menyebut, semula dibeli dari nelayan seharga Rp260.000 per cekeng kini naik menjadi Rp400.000 per cekeng.
Kenaikan harga ikan teri tersebut juga dibenarkan oleh Sanusi (36) salah satu nelayan di Desa Way Muli Kecamatan Rajabasa. Nelayan yang kerap mencari ikan dengan perahu jenis kasko tersebut kerap mencari ikan di perairan Krakatau Lampung Selatan.
Namun, semenjak erupsi dengan pengaruh paparan debu terbawa angin ke wilayah tangkapan nelayan mengganggu pernapasan dan mata. Larangan melakukan penangkapan ikan dalam radius 2 kilometer.
“Kawasan kepulauan Krakatau sebetulnya spot mencari ikan terbaik berupa teri dan jenis ikan lain. Tapi debu vulkanik membuat kami sesak napas dan mata pedih,” beber Sanusi.
Sanusi yang melaut di sekitar Krakatau mengaku, sudah terbiasa dan tidak khawatir, namun selalu memperhatikan arah angin saat melaut. Saat udara berhembus ke arah timur sejumlah nelayan seperti dirinya harus berada di sisi barat agar tidak terpapar debu.
Selain erupsi GAK, pengaruh angin barat ikut mempengaruhi hasil perolehan tangkapan ikan yang diperolehnya. Sehari semalam biasanya ia bisa memperoleh 20 cekeng teri kini hanya memperoleh 8 cekeng.

Imbasnya debu dan pasir kerap turun di kapal tangkap miliknya dan nelayan dilarang mendekat di radius 2 kilometer.
“Tanpa dilarang mendekat kami juga sudah merasakan bahaya jika berada di dekat Krakatau. Karena saat erupsi selain debu batu apung sebesar jempol, batu bisa beterbangan di radius satu kilometer,” tutur Umadi.
Beruntung jarak perkampungan nelayan cukup jauh, sekitar puluhan kilometer sehingga tidak berbahaya bagi masyarakat. Meski demikian, saat beraktivitas dirinya kerap harus menggunakan masker pelindung hidung agar terhindar dari gangguan kesehatan pernapasan.
Selain itu, dirinya kerap mengenakan kacamata menghindari gangguan penglihatan akibat paparan debu.
Dampak dari tidak boleh mendekat ke kawasan Krakatau secara tidak langsung menurunkan hasil tangkapan. Tiga bulan sebelumnya, Umadi menyebut, bisa mendapatkan sekitar 30 cekeng teri. Namun kini hanya mendapat di bawah 20 cekeng.
Imbasnya, sejumlah nelayan menjual teri jengki dan teri nasi lebih tinggi dari harga normal ke produsen teri rebus.