BPPT Luncurkan Teknologi Pemanfaatan Lahan Tanpa Bakar

Ilustrasi sekat kanal di lahan gambut - Foto Dok. CDN

BATAM – Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) meluncurkan produk BioPeat. Sebuah produk hasil terobosan teknologi, yang dikembangkan bersama PT Riau Sakti United Plantations (RSUP), untuk memanfaatkan lahan gambut untuk lahan pertanian tanpa dibakar.

Kepala BPPT, Unggul Priyanto mengatakan, inovasi biopeat dapat meningkatkan pH lahan gambut. Hal tersebut membantu menjadikan lahan gambut dapat ditanami tanpa harus membakar lahan. Melalui rekayasa bioteknologi di sarana laboratorium yang dimiliki BPPT, mikroorganisme lokal (indigenous) dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas pertanian/perkebunan, melalui peningkatan pH tanah gambut dan penyediaan nutrisi tanaman.

“Dengan BioPeat, kebakaran lahan akibat gambut yang dibakar, dapat dikurangi. Inovasi biopeat menjadi solusi teknologi, saat ini tengah dikembangkan BPPT bersama industri lokal, yakni RSUP di Kepulauan Riau,” kata Dia.

Lahan gambut tropis mengandung asam-asam organik yang tinggi, hasil degradasi lignin tanaman yang melapuk, menyebabkan peningkatkan keasaman tanah atau membuat pH menjadi rendah. Dengan pemanfaatan mikroba potensial dari lahan gambut, yang memakan asam-asam organik sebagai sumber karbon untuk pertumbuhannya, maka aktifitas mikroba akan memberikan dampak positif bagi perbaikan kualitas tanah.

“Aplikasi pupuk hayati BioPeat pada tanah gambut mampu meningkatkan pH tanah, dari semula rata-rata pH 3,9, menjadi pH 5. Dengan meningkatnya pH tanah gambut, maka peluang mikroba penyubur tanah lainnya dapat bertahan hidup dilingkungan tanah gambut. Sehingga tanah gambut menjadi lebih subur,” jelasnya.

Produk BioPeat BPPT telah teruji kemampuannya melalui serangkaian uji aplikasi. Selain memperbaiki kualitas hasil panen, BioPeat juga mampu meningkatkan ketahanan tanaman terhadap serangan hama. “BioPeat terbukti dapat meningkatkan produktivitas tanaman Jagung sebesar 45 persen, buah Nanas grade A sebesar 31 persen, dan meningkatkan kadar kemanisan buah Naga hingga mencapai rata-rata Brix 15 persen, cukup jauh diatas nilai brix buah Naga di pasaran yang hanya mencapai 11 persen,” tuturnya.

Untuk mendukung pengkajian dan penerapan teknologi BioPeat, serta pemanfaatan hasilnya kepada masyarakat, PT RSUP telah membangun Laboratorium dan Pusat Informasi Teknologi BioPeat (LPITBio) dan Unit Produksi BioPeat dengan dukungan teknologi dari BPPT. (Ant)

Lihat juga...