Petani Jeruk Siam di Lamsel Kesulitan Air

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG — Puluhan petani Jeruk Siam di Desa Tanjungsari, Kecamatan Palas, Lampung Selatan, mengeluhkan minimnya sumber air di musim kemarau ini. Para petani terpaksa harus menyediakan sumur bor atau pengeboran air tanah, bahkan harus menyiapkan sumur jenis submersible dengan kedalaman 60 hingga 80 meter.
Kadeni (52), petani jeruk di Dusun Solo, Desa Tanjungsari, menngatakan, air yang berkurang membuat tanaman miliknya mengering. Guna mencegah kerugian lebih besar, ia melakukan penyiraman dengan sistem pipanisasi. Kondisi tersebut hanya terjadi saat kemarau, sedangkan di musim musim hujan, curah hujan bisa diandalkan.
“Penyiraman kami lakukan untuk beberapa tanaman jeruk yang tengah berbunga, dan merupakan tanaman usia muda, sebagian tanaman yang sudah berbuah tetap disiram dengan pasokan air lebih sedikit,” terang Kadeni, saat ditemui Cendana News, Kamis (26/7/2018).
Akses jalan yang sempit hanya bisa dilintasi kendaraan roda dua, sehingga menghambat distribusi hasil panen jeruk [Foto:Henk Widi]
Menurut Kadeni, kebutuhan air untuk tanaman jeruk juga memanfaatkan embung sungai penampung air, yang disalurkan ke bak-bak penampungan. Sebagian dimanfaatkan untuk lahan pertanian jagung dan kelapa. Sistem tumpangsari itu, kata Kadeni, menjadi solusi petani untuk memperoleh hasil maksimal.
Saat sebagian tanaman membutuhkan air banyak, sebagian komoditas pertanian justru tumbuh dengan baik di musim kemarau. Terutama jenis tanaman sayuran.
Karenanya, penanaman sistem tumpangsari menjadi solusi bagi petani yang mengalami kendala saat musim kemarau. Kadeni bahkan merasa diuntungkan dengan musim kemarau yang bertepatan dengan masa tanam jagung, sehingga proses pengeringan bisa lebih cepat.
Selain kebutuhan air untuk pertanian tanaman jeruk siam, Kadeni menyebut perkebunan berada jauh dari akses jalan utama. Menurutnya, akses dari jalan utama desa setempat berjarak sekitar sepuluh kilometer. Akses jalan dihubungkan dengan jalan berbatu, dilanjutkan jalan setapak tanah. Hanya kendaraan roda dua yang bisa memasuki areal perkebunan.
Kadeni yang menanam kurang lebih 500 tanaman jeruk, menjadi satu dari sekitar 25 petani penanam  jeruk yang tersebar di Dusun Kaliliak, Dusun Kuningan, Dusun Solo dan Dusun lain di Desa Tanjungsari.
Tanaman jeruk yang sudah mulai berbuah sejak bulan Mei dan mulai memasuki proses pematangan pada Juli ini, kerap diambil oleh pedagang pengecer, yang terpaksa mempergunakan kendaraan roda dua akibat kendaraan roda empat tidak bisa melintas.
“Petani penanam jagung, jeruk, pepaya kalina, pernah mengajukan untuk pembuatan sumur bor dan perbaikan jalan, tapi belum terealisasi,” papar Kadeni.
Akses jalan yang sempit, kata Kadeni, membuat pedagang memanfaatkan jasa ojek motor. Biaya yang dikeluarkan bisa lebih membengkak, sehingga harga jual jeruk di level petani sudah tinggi.
Jeruk dengan usia tanam hampir mencapai lima tahun, per pohon awalnya hanya menghasilkan 10 kilogram jeruk, kini berbuah sekitar 50 kilogram.
Ia berharap, pemerintah dan instansi terkait bisa memfasilitasi ketersediaan pasokan air dan akses jalan. Sebab, Kadeni dan sejumlah petani jeruk lain merencanakan akan membuat kawasan sentra agrobisnis jeruk dan pepaya kalina di wilayah tersebut.
Pengunjung bisa datang langsung ke kebun dan memetik buah jeruk untuk dibeli dengan sistem timbang. Selain itu, kebun jeruk bisa menjadi lokasi wisata edukasi bagi siswa sekolah.
Keterbatasan akses jalan dan kurangnya pasokan air, juga diakui oleh petani jeruk lainnya, Asman. Menurutnya, dengan adanya akses jalan yang mudah, petani jeruk dengan rata-rata memiliki areal seluas setengah hektare hingga satu hektare, bisa mudah mendistribusikan hasil panen.
Asman yang melakukan sistem tumpangsari jeruk dengan jagung sudah dua kali memasuki masa panen.
“Seperempat hektare sudah bisa dipanen setelah dua tahun ,sebagian masih usia satu tahun, sehingga masih bisa ditanami jagung,” papar Asman.
Salah satu kendala belum direalisasikannya harapan petani jeruk di wilayah tersebut, diakui Asman karena belum adanya kelompok petani penanam jeruk.
Selama ini, sejumlah petani penanam jeruk merupakan petani mandiri dengan permodalan minim, bahkan sebagian harus berutang untuk menanam jeruk.
Penyediaan sumur bor untuk pengairan sebagian juga disediakan mandiri oleh petani jeruk, termasuk pembuatan akses jalan secara gotong-royong, agar mudah dilintasi saat musim panen.
Lihat juga...