MPLS di SMPN 1 Penengahan Utamakan Pembentukan Karakter

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – SMP Negeri 1 Penengahan, di Lampung Selatan, menerapkan cara baru dalam masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) untuk peserta didik baru, dengan menekankan pada pembentukan karakter.
Kepala SMPN 1 Penengahan, Drs. Cik Ujang, mengatakan, masa pengenalan lingkungan bagi siswa baru kelas VII diselenggarakan selama tiga hari, ditutori oleh guru dan Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS).
Menurutnya, pengenalan lingkungan sekolah (PLS) tahun ajaran 2018/2019, meliputi pengenalan kondisi sekolah, fasilitas sekolah, guru, serta sejumlah materi, di antaranya materi cara belajar yang baik, keagamaan, tata krama, ibadah, wawasan wiyata mandala, dan pengenalan siswa. MPLS tahun ini disebutnya berbeda dengan tahun sebelumnya, salah satunya lebih kepada pembentukan karakter.
Drs. Cik Ujang, Kepala Sekolah SMPN 1 Penengahan, Kabupaten Lampung Selatan [Foto: Henk Widi]
“Para siswa diterima di sekolah ini dengan seleksi ketat, sehingga harus dibina karakternya untuk menjadi siswa baru selama MPLS, derngan didampingi guru dan OSIS,” terangnya, saat dikonfirmasi di kantornya, Kamis (19/7/2018).
MPLS yang digelar selama tiga hari, kata Cik Ujang, sesuai anjuran pemerintah dan edaran Dirjen Dikdasmen No 4226/D/TU/2018, sebagai penyelenggara kegiatan edukatif, kreatif dan menyenangkan.
Para anggota OSIS yang dilibatkan hanya ditugaskan menyampaikan sosialisasi terkait sejumlah kegiatan organisasi di lingkungan sekolah. Tahun ini, pihak sekolah juga melarang membebankan kepada siswa membawa atribut khusus, kecuali hanya mewajibkan membuat papan nama bagi siswa baru.
Cik Ujang menambahkan, peserta didik baru yang mengikuti pengenalan lingkungan sekolah merupakan siswa yang diterima di SMPN 1 Penengahan dengan hasil seleksi nilai. Sebab, antusiasme siswa lulusan SD untuk mendaftar di sekolah tersebut cukup tinggi, mencapai 420 siswa. Sementara, yang diterima hanya 288 siswa.
Sebagian besar siswa merupakan peserta didik baru dari sejumlah SD yang berada di wilayah kecamatan Bakauheni dan Penengahan.
“Penerimaan siswa tidak menggunakan sistem zonasi, karena murni tes tertulis dan siswa yang diterima benar-benar yang lulus tes,” terang Cik Ujang.
Cik Ujang juga menjelaskan, 288 siswa itu terbagi dalam sembilan rombongan belajar atau kelas. Melalui kegiatan MPLS, ia menekankan agar siswa bisa mempersiapkan diri untuk bisa mengikuti pelajaran di sekolah.
Sebab, katanya, siswa baru merupakan lulusan SD yang berasal dari sejumlah sekolah dengan lingkungan belajar yang berbeda.
Kepala Bidang Kurikulum SMPN 1 Penengahan, Drs. Supangat, menambahakn, kegiatan MPLS dibagi dalam dua kategori, yakni di dalam ruangan dan di luar ruangan. Kegiatan di dalam ruangan diberikan oleh sembilan guru sebagai tutor dan pengurus OSIS. Sedangkan kegiatan di dalam ruangan meliputi wawasan wiyata mandala, cara belajar yang baik dan sejumlah materi diberikan di aula.
“Pelatihan upacara serta dinamika kelompok sekaligus kegiatan peraturan baris-berbaris, dilakukan di halaman sekolah, dengan dipandu pengurus OSIS,” jelas Supangat.
Menurutnya, para siswa yang sudah dibagi dalam sejumlah kelas itu juga sudah mulai melakukan kegiatan piket dalam menjaga kebersihan kelas. Setelah MPLS selesai pada Kamis (19/7) ini, para peserta didik baru akan melaksanakan proses belajar secara efektif sebagai murid SMPN 1 Penengahan, sesuai kelas yang sudah ditentukan.
Pada pekan pertama, katanya, selama masa belajar, peserta didik baru masih dibolehkan mempergunakan seragam SD, menunggu seragam SMP dari sekolah.
Emma, salah satu siswa kelas IX sebagai pengurus OSIS, menyebut selama kegiatan MPLS peserta didik baru tidak diberi beban berlebihan. Sebagai contoh, pada tahun-tahun sebelumnya siswa perempuan diwajibkan menggunakan pita warna-warni, kini ditiadakan.
Kewajiban mendapatkan tanda tangan kakak kelas serta guru-guru juga dikurangi. Pengurus OSIS hanya memberikan materi tentang PBB, serta upacara bendera, karena sebagian materi diberikan oleh guru sebagai tutor.
Lihat juga...