Melimpahnya Air Dukung Bisnis Budi Daya Ikan Tawar di Lamsel

LAMPUNG – Potensi budi daya ikan air tawar di wilayah Kecamatan Penengahan, Kabupaten Lampung Selatan, didukung lancarnya pasokan air tawar dari Gunung Rajabasa, meski di musim kemarau.
Ngatiran Purwodinoto (53) dan sang anak, Daniel Angga (25), warga Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, mengaku sejak lima tahun ini membudidayakan ikan nila, gurami dan lele, dengan sistem tebar benih untuk pembesaran, dengan memanfaatkan melimpahnya submer air yang mengalir dari Gunung Rajabasa.
Ia menjelaskan, pemanfaatan air yang mengalir sepanjang musim, bahkan saat kemarau ini, dilakukan dengan membuat kolam semi alami, sebanyak tiga petak, dengan ukuran berbeda, luas 120 meter dan 160 meter, kedalaman masing-masing 80 sentimeter. Kolam permanen dengan tembok semen disebut Ngatiran efektif untuk menjaga pasokan air, agar tidak terbuang oleh rembesan.
“Pasokan air berasal dari sungai kecil yang dialirkan dengan pipa pada tiga petak kolam, air lancar, bahkan saat musim kemarau, termasuk adanya cadangan dari sumur dengan kedalaman hanya tiga meter,” terang Ngatiran, Kamis (19/7/2018).
Lokasi lahannya yang berada di cekungan, kata Ngatiran, juga menjadi nilai lebih pembuatan kolam. Sebab pembuatan kolam memperhitungkan tipe tanah, karakteristik, topografi dan persediaan air.
Memiliki lokasi yang berada di cekungan membuat pasokan air untuk kebutuhan ikan yang dibudidayakan selalu tersedia sepanjang hari. Kondisi air mengalir sekaligus ikut menjaga kualitas air serta ikan air tawar yang dibudidayakan dibandingkan sistem budidaya ikan tidak mengalir.
Kolam semi alami dengan dinding semen, jelas Ngatiran, pada bagian dasar tetap dipertahankan struktur tanah liat berlumpur. Pada bagian atas, ia juga masih mempertahankan lahan untuk menanam talas sebagai pakan alami. Selain memberi keuntungan, jenis tanah berlumpur dan tanah liat mencegah kebocoran. Lumpur juga disukai ikan jenis lele untuk bersembunyi.
Tiga jenis ikan air tawar yang dibudidayakan Ngatiran, dikembangkan dengan sistem pemijahan alami untuk jenis nila dan gurami, yang kini sebagian sudah berkembangbiak secara alami, menjadi sekitar 4.000 benih ikan nila dan 2.500 benih gurami. Perkembangbiakan ikan nila secara alami cukup pesat, dengan adanya pasokan pakan pabrikan dan pakan alami daun talas.
“Semula, budi daya ikan air tawar sebagai hobi dan mengisi waktu luang, namun ternyata ada prospek bisnis jika dikembangkan dengan serius,” terang laki-laki dengan tiga anak ini.
Karenanya, Ngatiran pun membenahi kolam yang semula alami menjadi semi alami, dengan penambahan dinding semen yang berfungsi untuk mencegah tanggul longsor, dengan tetap mempertahankan struktur bagian dasar kolam tanah liat dan lumpur.
Selama dua periode dengan masa pembesaran 45 hari hingga 60 hari, Ngatiran mulai mencoba peruntungan bersama sang anak melalui budi daya ikan lele, yang didatangkan dari Kecamatan Palas, Lampung Selatan. Ikan lele menjadi tambahan penghasilan.
Jika ikan nila dan gurami dikembangkan dalam satu kolam, lele dibudidayakan dalam dua petak kolam. Ikan lele ditebarkan di kolam dengan ukuran bibit 5-7 centimeter, dengan total 10 ribu ekor benih. Sistem pemberian pakan secara rutin serta pola sirkulasi air yang baik, membuat dirinya bisa memanen lele pada usia 45 hari.
Patokan masa panen pada usia tersebut, saat ikan lele per kilogram berisi 8 -10 ekor lele. Ikan lele sangat diminati, karena lele dikembangkan menggunakan air mengalir. Kondisi pasokan air lancar dan mengalir membuat kualitas ikan yang dihasilkan disukai konsumen.
“Konsumen di sekitar desa kami juga sudah banyak, sebagian ada yang dikonsumsi sendiri, dan dijadikan kuliner pecel lele oleh pedagang,” terang Ngatiran.
Sementara itu, Daniel Angga, sang anak, menyebut pilihan melakukan budi daya ikan air tawar itu karena cukup menjanjikan. Pemuda yang kini bekerja sebagai pelaut pada salah satu kapal di Jakarta tersebut juga mengaku, budi daya ikan air tawar, khususnya ikan lele, lebih cepat panen.
Bibit ikan lele ukuran 5-7 cm seharga Rp200, sebanyak 10 ribu ekor benih, nilanya Rp2juta.
Menurutnya, proses perawatan membutuhkan pakan pelet satu periode pembesaran sebanyak 6 sak atau 300 kilogram. Harga per sak pakan jenis Profit 781-2 Rp300 ribu, sehingga biaya pakan untuk satu periode mencapai Rp1,8 juta. Tambahan pakan alami berupa daun talas disebutnya masih diberikan, selain untuk ikan lele juga diberikan untuk ikan gurame dan ikan nila.
Harga ikan lele Rp17.000 per kilogram, dengan estimasi panen dua kuintal, katanya, bisa memperoleh hasil penjualan sekitar Rp3,4 juta. Masa panen yang tidak seragam, membuat Daniel Angga dan sang ayah harus melakukan proses penyortiran.
Kondisi ideal untuk lele konsumsi, berukuran satu kilogram sebanyak 8-10 ekor, sementara jika lebih dari ukuran tersebut, ikan lele akan dikembalikan ke kolam khusus sortir.
“Saya juga terus belajar, agar masa panen bisa seragam, sehingga ikan lele bisa dipanen serentak,” terang Daniel Angga.
Sebagian ikan yang disortir dengan ukuran yang masih terlalu kecil langsung dipisahkan dalam jaring khusus, yang ditempatkan di kolam sortir, untuk memisahkan ikan lele yang masih belum masuk ukuran per kilogram isi 8-10 ekor. Daniel Angga memastikan, lele yang bisa dipanen pada usia 45 hari, cocok untuk para pelaku usaha kuliner pecel lele.
Berbeda dengan ikan lele yang bisa dipanen usia 45 hari, khusus untuk budi daya ikan gurami dan nila, Angga Daniel dan sang ayah sengaja memanen saat momen tertentu.
Ikan nila dan gurami normal bisa dipanen saat usia 6-7 bulan dengan berat sekitar 600 gram. Dalam kondisi pasokan pakan yang baik, bisa mencapai ukuran 500 gram per ekor pada usia lima bulan.
Di bawah usia tersebut, ia menyebut jarang memanennya bahkan membiarkan terjadi perkembangbiakan secara alami untuk memperbanyak jumlah ikan di kolam.
“Kami kerap memanen ikan nila dan gurami setahun sekali, saat ada acara keluarga dengan ukuran bisa mencapai satu kilogram,” terang Ngatiran.
Menurutnya, harga ikan nila dan gurami saat ini bervariasi. Ikan nila hitam bisa mencapai Rp20.000 hingga Rp22.000 per kilogram, ikan nila merah seharga Rp25.000 hingga Rp30.000 per kilogram. Sementara harga ikan gurami saat ini Rp45.000 hingga Rp60.000 per kilogram.
“Prospek usaha budi daya ikan air tawar ini cukup menjanjikan. Selain bisa dijadikan sumber peningkatan ekonomi, juga untuk memanfaatkan waktu luang”, pungkas Ngatiran.
Lihat juga...