Masyarakat Bangun Jalan Desa Lamaole Solor Barat Secara Swadaya

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

LARANTUKA — Pembangunan jalan desa yang menghubungkan dusun Lewolein dan dusun Tanahedang di desa Lamaole kecamatan Solor Barat sepanjang 1.150 meter dilakukan secara swadaya dengan menggunakan dana desa tahun anggaran 2017.

“Pembangunan jalan desa tersebut sebagian swadaya sebagiannya lagi menggunakan dana desa. Masyarakat yang kerja tersebut juga hanya bantu-bantu saja sebab ada tukang yang bekerja dan dibayar borongan dan masyarakat yang kerja itu swadaya murni,” sebut Maria Matilde Kilu Keban, Minggu (22/7/2018).

Semua masyarakat desa Lamaole tegas Maria, mau mengerjakan tanpa ada kelompok sehingga semua masyarakat mendapatkan jatah bekerja. Upah untuk Hari Orang Kerja diberikan semua kepada masyarakat dimana kepala dusun membagi kepada semua orang yang hadir bekerja.

“Rencana Anggaran Biaya (RAB) nya ratusan juta rupiah saja sementara biaya untuk Hari Orang Kerja (HOK) sebesar 31 juta rupiah. Pembayarannya juga dilakukan sesuai termin sebesar 30 persen lalu 40 dan 30 persen dengan melihat dahulu sesuai volume pekerjaannya,” terangnya.

Kepala desa Lamaole kecamatan Solor Barat Maria Matilde Kilu Keban (kiri) bersama Noben da Silva. Foto : Ebed de Rosary

Dana tersebut, kata Maria, sudah tertera dalam APBDes 2017 sehingga pembiayaannya tidak bisa keluar dari anggaran. Pekerjaan jalan dimulai bulan Oktober 2017 namun terhalang dengan hujan sehingga mobil pengangkut material juga kadang sulit ambil material.

“Kami tidak pernah memberi gaji per hari 8 ribu dan masyarakat yang bekerja membangun jalan desa tersebut dilakukan secara swadaya sebab yang digaji borongan hanya para tukang yang melaksanakan pekerjaan tersebut. Mungkin mama tua yang bicara tersebut sudah tua jadi tidak tahu,” sebutnya.

Di desa Lamaole tandas Maria, memang sangat kekurangan tenaga kerja sehingga yang ada di kampung itu hanya para perempuan terutama para lansia. Ada dua kelompok yang bekerja dimana satu kelompok kumpul batu dan satunya lagi menyusun batu di jalan.

Targetnya, beber Maria, pada Agustus 2018 ini pembangunan jalan tersebut sudah selesai agar bisa dilanjutkan dengan pekerjaan lainnya dengan menggunakan dana desa. Jumlah pendudukan desa Tanaole sebanyak 341 jiwa dengan 94 Kepala Keluarga (KK).

“Memang kadang kami kesulitan kalau ada kerja sebab hampir semua laki-laki merantau ke Kalimantan dan Malaysia sehingga yang ada di desa hanya para perempuan terutama para lansia,” paparnya.

Noben da Silva berharap agar pemerintah kabupaten Flores Timur dapat memperhatikan nasib masyarakat di desa-desa di kecamatan Solor Barat yang terutama kesulitan akses jalannya.

“Hampir semua jalan di kecamatan Solor Barat apalagi jalan kabupaten kondisinya rusak parah sehingga untuk ke Pamakayo di wilayah timur Ritaebang ibukota kecamatan saja harus mengeluarkan uang hingga 100 ribu rupiah,” sebutnya.

Padahal uang itu sangat besar nilainya bagi masyarakat, karena pendapatan di Solor hanya mengandalkan pertanian dan nelayan.

“Kalau akses jalan bagus tentu dana yang dikeluarkan masyarakat untuk biaya transportasi bisa berkurang 50 persen apalagi masyarakat sering ke pasar di Ritaebang atau Pamakyo untuk menjual hasil pertanian dan perkebunan,” pungkasnya.

Lihat juga...