Karhutla Terjadi Karena Masalah Kepemilikan Lahan Belum Selesai

Ilustrasi - Dok CDN

PALEMBANG – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) masih terjadi di Sumatera Selatan. Salah satunya karena persoalan kepemilikan lahan di daerah tersebut belum terselesaikan hingga kini. Kondisi tersebut terjadi sejak pascabencana kabut asap hebat di 2015 lalu.

Staf Khusus Perubahan Iklim Gubernur Sumatera Selatan Najib Asmani mengatakan, karena tidak ada pemilik, sangat rentan terjadi karhutla seperti yang terjadi beberapa tahun terakhir. “Dari sekitar 700 hektare lahan yang terbakar di 2015, masih ada sebagian lahan yang tidak bertuan. Maksudnya, tidak jelas, apakah milik rakyat atau perusahaan. Inilah yang menjadi masalah hingga kini,” kata Najib, Rabu (25/7/2018).

Terkait persoalan tersebut, Pemprov Sumsel sudah melaporkannya ke pemerintah pusat melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Termasuk melaporkan kendala yang terjadi di lapangan. “Sebenarnya sudah ada pemetaan oleh pemerintah pusat terkait lahan-lahan terbakar tak bertuan ini. Namun, belum sepenuhnya selesai. Kami berharap cepat diselesaikan karena sebenarnya lahan-lahan inilah yang selalu terbakar tiap tahun,” jelasnya.

Najib menyebut, pemerintah sebaiknya segera memberikan ketetapan terhadap lahan-lahan tak bertuan. Hal itu penting untuk menghindarkan terjadinya konflik lahan. “Lahan-lahan ini menjadi bahan bakar di saat musim kemarau. Berdasarkan hasil pendataan kami, titik-titik hotspot selalu berada di lahan-lahan ini seperti di Ogan Komering Ilir (OKI) dan Ogan Ilir. Jika lahan ini sudah ada yang bertanggung jawab, maka artinya ada yang menjaga dan mudah untuk penegakan hukumnya,” kata Dia.

Sumatera Selatan meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi karhutla. Hal itu menyusul telah terbakarnya 250 hektare lahan di Kecamatan Pedamaran, Kabupaten OKI, pada 16 hingga 23 Juli 2018. Adanya 1,4 juta lahan gambut di daerah tersebut menjadi ancaman dan potensi karhutla setiap tahunnya.

Selain itu, berdasarkan pantauan BMKG, sejumlah daerah rawan karhutla diketahui sudah tanpa hujan lebih dari enam hari. Sementara suhu rata-ratanya mencapai 32-34 derajat Celcius (suhu ekstrem 35 derajat Celcius). Kasus karhutla menjadi perhatian, karena di periode genting itu akan dilaksanakan Asian Games XVIII pada 18 Agustus-2 September 2018 di Palembang. Untuk itu Sumsel menetapkan status siaga merah pada 20 Juli-5 Agustus 2018. (Ant)

Lihat juga...