Harga dan Produksi Ternak Ayam KUB Stabil
Editor: Mahadeva WS
YOGYAKARTA – Kelompok ternak Ayam Kampung Unggul Balitbangtan (KUB), tidak terpengaruh kondisi terpuruknya aktivitas ternak ayam yang sedang terjadi saat ini.
Peternak ayam KUB selama ini tidak tergantung pada pakan ternak pabrikan seperti konsentrat. Mereka mampu menekan kebutuhan pakan ternak pabrikan dengan membuat pakan ternak mandiri. Sehingga, saat harga daging ayam potong melambung, harga daging ayam produksi KUB tetap stabil.
“Kita tidak terpengaruh karena memang kita tidak tergantung pakan pabrikan. Beda dengan peternak ayam putih (broiler) yang 100 persen tergantung pakan pabrikan. Sehingga begitu AGP dicabut, pertumbuhan jadi terganggu, dan harga daging melambung,” ujar Ketua Kelompok Ternak ayam KUB, Sawung Maju, Jogotirto, Brebah, Sleman, Sumarjo, Jumat (27/7/2018).
Sumarjo menyebut, kebutuhan pakan ayam KUB lebih banyak menggunakan pakan alami, yaitu 50 persen katul atau dedak padi, dan 25 persen jagung. Sementara komposisi pakan pabrikan berupa konsentrat hanya sebesar 25 persen saja. Untuk pakan tambahan, peternak juga biasa menambahkan pakan hijau seperti daun kangkung atau pepaya. “Kita juga tidak menggunakan antibiotik. Hanya vaksin saja, karena ayam KUB lebih tahan penyakit,” imbuhnya.
Dengan pakan tersebut, pertumbuhan ayam KUB baik pedaging atau petelur, terbilang tidak kalah dibanding ayam broiler. Ayam KUB memiliki pertumbuhan sebesar sembilan ons hingga 1 kilogram dalam kurun waktu 70 hari. Sementara untuk jenis petelur mampu menghasilkan 180 telur per tahun. “Harga ayam KUB juga selalu stabil sejak dulu. Untuk daging ayam KUB karkas (bersih) mencapai Rp58-60ribu per kilogram. Sedangkan untuk ayam hidup mencapai Rp35-36ribu per kilogram,” katanya.
Pasar ayam KUB masih sangat terbuka luas, baik untuk jenis petelur maupun pedaging. Daging maupun telur ayam KUB digunakan untuk konsumsi rumah makan atau restoran hingga konsumsi keluarga. “Untuk pasar sangat bagus. Kita saja sampai kewalahan memenuhi permintaan yang masih sangat tinggi setiap harinya,” katanya.
Sebagaimana diberitakan Cendananews sebelumnya, melonjaknya harga daging dan telur ayam ras (broiler) salah satunya disebabkan kebijakan pemerintah yang menghentikan penggunaan Antibiotic Growth Promoters (AGP) sebagai campuran pakan ternak.