Distan Sikka Dapat Bantuan Ribuan Vaksin Rabies

Editor: Mahadeva WS

Kepala bidang Kesehatan Hewan dinas Pertanian kabupaten Sikka Drh. Maria Margaretha Siko,MSc. Foto : Ebed de Rosary

MAUMERE – Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Sikka melalui Bidang Kesehatan Hewan kembali mendapatkan bantuan Vaksin Rabies.  Kali ini jumlah vaksin yang diterima mencapai 5.000 dosis.

Sebelumnya, bantuan 5.000 dosis yang diberikan Dinas Peternakan Provinsi NTT pada April lalu sudah dipergunakan semuanya.“Pada 5 Juli kemarin kita kembali mendapatkan 5.000 dosis lagi vaksin rabies untuk hewan di Kabupaten Sikka. Kami juga sudah kembali mengerahkan petugas untuk melakukan vaksin pada anjing,” ujar Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Pertanian Kabupaten Sikka Drh. Maria Margaretha Siko,MSc, Senin (23/7/2018).

Vaksinasi telah dilakukan di 10 kecamatan dan hingga kini masih berlangsung. Di Kecamatan Paga, Hewokloang, Koting dan Nita, petugas melakukan vaksinasi di tiga desa di setiap kecamatan. Sementara di Kecamatan Kangae dilakukan di enam desa, di Kecamatan Lela dan Kewapante masing-masing satu desa, di Kecamatan Alok dua kelurahan dan Alok Timur sudah dilakukan di enam kelurahan.

“Masih ada 113 desa dan kelurahan di Kabupaten Sikka yang belum mendapatkan vaksinasi. Tapi sebelumnya memang sudah ada vaksinisasi tetapi mungkin ada anjing dan kera yang belum divaksin,” terangnya.

Proses vaksinasi dilakukan secara terus menerus dikarenakan virus rabies masih ditemukan pada beberapa kasus gigitan anjing. Himbauan juga sudah selalu disampaikan kepada masyarakat setiap ada kasus gigitan anjing. “Tetapi anjing yang dipelihara terkadang tidak semuanya divaksin sebab pemiliknya tidak menghendaki dan sering menyembunyikan anjingnya saat petugas vaksin turun melakukan vaksinasi dari rumah ke rumah,” terangnya.

Dokter hewan Yersi Dua Bura yang bertugas mengkordinir vaksinasi pada hewan terutama anjing di Kabupaten Sikka menjelaskan, selama 2018 hingga awal Juli terdapat 33 kasus gigitan anjing pada manusia. “Dari jumlah kasus gigitan tersebut dan hasil pemeriksaan sampel otak anjing di laboratorium di Denpasar, 16 spesimen postifi rabies. Dengan demikian virus rabies masih banyak terdapat pada anjing di Sikka sehingga perlu adanya vaksinasi,” tegasnya.

Anjing yang masih dipelihara masyarakat di kota Maumere dan belum mendapatkan vaksin rabies. Foto : Ebed de Rosary

Anjing yang positif rabies berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium terdapat di tiga desa di kecamatan Kangae dan Nita, dua desa di Kecamatan Hewokloang yakni di Desa Munerana dan Rubit. “Kasus gigitan anjing yang terinfeksi rabies juga ada di Kecamatan Koting di Desa Koting B dan Kecamatan Alok Timur saat ini masih terdapat di satu kelurahan di dalam kota Maumere,” rincinya.

Selain itu, di Pulau Flores sampai saat ini statusnya masih karantinanya belum dicabut atau dikatakan bebas rabies. Masih banyak kasus gigitan anjing yang positif tertular virus rabies.

Sekertaris Komite Rabies Flores dan Lembata dr.Asep Purnama mengatakan, selama kurun waktu 2017 terdapat 11 kasus gigitan anjing rabies. Kasusnya tersebar di lima kecamatan yakni Lela, Alok, Alok Barat, Nita dan Kangae. Dengan demikian Rabies sudah menyebar di 17 desa dan 7 kecamatan dari 21 kecamatan di Kabupaten Sikka.

“Kasus gigitan anjing rabies terutama di Kabupaten Sikka mulai mengalami peningkatan sehingga semua bupati di Flores dan Lembata harus bersama memeranginya. Tentu adanya gubernur baru,harus menjadi motor penggerak pemberantasan penyakit ini,” pintanya.

Bila tidak ada gerakan masif untuk memberantasnya, dikhawatirkan virus rabies akan menyebar keseluruh wilayah di Pulau Flores dan Lembata. Bahkan dikhawatirkan menyebar hingga ke semua wilayah di NTT. Ini juga akan menjadi ancaman bagi wisatawan yang berkunjung ke NTT.

Lihat juga...