Tarawih Malam ke-18 di Masjid Pangeran Diponegoro TMII

Editor: Satmoko

JAKARTA – Masjid Pangeran Diponegoro Taman Mini Indonesia Indah (TMII) menjadi pilihan utama para jamaah untuk melaksanakan salat Tarawih di bulan suci Ramadan 1439 hijriah.

Terbukti salat Tarawih malam ke-18, ratusan jamaah dengan diimami oleh Kolonel (purn) TNI Ustad As’ yari, terlihat sangat khusyuk beribadah.

Pada salat Tarawih ini, Ustad As’yari pun tampil sebagai penceramah. Dalam tausiahnya, Ustad As’yari mengatakan, sebenarnya menjalani hidup di dunia ini gampang atau mudah adalah tergantung dari diri kita sendiri.

Menurutnya, kalau hidup kita ini mengikuti kemauan kita sendiri tentu akan susah karena kita tidak pernah bercita-cita untuk hidup.

“Hidup ini atas kemauan dan kehendak Allah SWT. Maka supaya hidup berkah ikuti perintah Allah SWT,” tandasnya.

Jamaah sedang salat Tarawih di Masjid Pangeran Diponegoro TMII, Jakarta, Sabtu (2/6/2018) malam. Foto : Sri Sugiarti.

Dia mengatakan, hidup ini sederhana, karena yang bikin sulit itu kita sendiri. Manusia hidup itu mulai dari tidak bisa apa-apa, tidak punya apa-apa, dan tidak mengerti apa-apa. Ketika nanti meninggal dunia pun, manusia itu tidak akan membawa apa-apa, kecuali amal perbuatan yang saleh.

“Lahir kita ini nggak bawa apa-apa, dan semua yang kita punya ketika kita wafat pun akan ditinggalkan,” ungkap Ustad As’yari.

Dia mengingatkan, bahwa manusia itu makhluk yang lemah. Saat meninggalkan dunia sebelum mati pun dalam keadaan lemah. Dan kesempurnaan adalah milik Allah SWT.

Tentu, sebut dia, jangan sombong kalau kita mempunyai kekuatan. Karena kekuatan itu milik Allah SWT. “Kita punya kekuatan lahir batin sampai tua semata milik Allah SWT,” tegas Ustad As’yari.

Dalam tausiahnya, Ustad As’yari mengajak agar para jamaah menjalani hidup penuh taqwa untuk menempatkan diri kita sesuai dengan tempat yang sebenarnya.

Dia menegaskan, jadilah manusia dengan menempatkan diri sebagai hamba Allah SWT. Jangan bertingkah laku sebagai tuan-tuan penguasa.

“Kita akan kembali kepada Allah SWT. Kita harus tawakal kepada-Nya. Insha Allah kita akan ditempatkan sebagai hamba yang dicintai oleh Allah SWT,” tegas Ustad As’yari.

Dia menyebutkan, banyaknya jamaah yang mengikuti salat Maghrib, Isya, dan Tarawih hingga malam ke 18 adalah bukti bahwa para jamaah di sekitar area TMII sudah mempersiapkan diri baik lahir maupun batin dalam menyambut bulan suci Ramadan.

“Semoga kita semua bisa istiqamah dalam menjalankan ibadah puasa di bulan Suci Ramadan penuh ampunan ini,” jelasnya.

Mila (51), salah satu jamaah warga lingkungan padepokan TMII mengaku sejak pertama Tarawih di masjid ini. “Di padepokan ada masjid, tapi sejak pertama hingga malam ke 18 ini, saya tarawih di Masjid Pangeran Diponegoro,” ujarnya.

Rudi (37), warga pintu 2 TMII juga mengaku hingga saat ini dirinya bersama keluarga salat Tarawih di masjid tersebut.

“Alhamdulillah kami memang setiap tahun Tarawih di Masjid Pangeran Diponegoro ini. Insha Allah sampai akhir Ramadan,” ujarnya.

Lihat juga...