Pasokan Jengkol Melimpah, Harga Berangsur Turun
Editor: Satmoko Budi Santoso
LAMPUNG – Permintaan akan komoditas jengkol yang mulai meningkat di sejumlah pasar tradisional lokal, luar wilayah Lampung tidak lantas meningkatkan harga bahan kuliner tersebut.
Menurut Mat Supi (42), pemilik usaha jual beli hasil pertanian, permintaan jengkol bahan kuliner mulai meningkat dua pekan sesudah lebaran Idul Fitri. Ia menyebut di tingkat petani harga jengkol bisa mencapai Rp30.000 per kilogram sehingga di pasaran bisa mencapai Rp45.000 dan bisa pula naik Rp65.000 per kilogram.
Mat Supi menyebut, pasokan jengkol banyak diperoleh dari sejumlah petani di kecamatan Ketibung, Kalianda dan Rajabasa terutama di wilayah yang berada di dekat
lereng gunung Rajabasa.

Di sejumlah pasar tradisional lokal Lampung Selatan, Mat Supi menyebut, harga berangsur turun. Melimpahnya panen musim bulan Juni pada komoditas jengkol berbarengan dengan buah petai menjadi penyebab harga jengkol turun.
“Jengkol dan petai memiliki fungsi sama sebagai makanan lalapan saat mentah dan bisa dijadikan campuran kuliner tradisional. Saat panen melimpah harga turun karena buah tersebut tidak bisa disimpan lama,” terang Mat Supi, salah satu pemilik usaha jual beli komoditas pertanian di desa Rawi kecamatan Penengahan, saat ditemui Cendana News, Sabtu (30/6/2018).
Melimpahnya pasokan jengkol dan petai, diakui Mat Supi, membuat harga petai semula Rp150.000 per empong berisi 100 keris turun menjadi Rp100.000 per empong. Kedua jenis komoditas tersebut kerap dicari oleh sejumlah rumah makan penyedia menu kuliner tradisional semur, rendang jengkol dan petai sebagai campuran.
Permintaan yang meningkat terlihat dari semula sepekan dirinya hanya mengirim sebanyak 200 kilogram kini mengirim 500 kilogram jengkol dan semula 50 empong petai menjadi 100 empong petai.
Ia memastikan harga bisa kembali naik saat pasokan berkurang sementara permintaan meningkat. Harga yang mulai berangsur turun dibandingkan satu bulan sebelumnya juga dipengaruhi lancarnya arus distribusi.

Sebelumnya Mat Supi menyebut distribusi agak sulit akibat larangan truk melintas saat arus mudik dan balik. Sebab ia mengandalkan jasa truk pengangkut asal Jawa pengangkut barang ke Sumatera dan saat ke Jawa bisa diminta mengangkut hasil pertanian.
“Truk ekspedisi barang rata-rata mematok biaya angkut satu juta lebih sekali angkut dengan tujuan Banten dan Jakarta daripada muatan kosong,” terang Mat Supi.
Jengkol dan petai yang dikumpulkan dari petani, disebut Mat Supi, dibeli dalam kondisi masih berkulit. Sesampainya di pasar tradisional, buah jengkol dan petai akan dikupas dan dijual ke konsumen di antaranya pemilik usaha kuliner atau konsumen rumah tangga.
Jengkol dan petai sengaja tidak dikupas sebelum tiba di pasar tradisional menghindari buah layu dan membusuk saat dalam perjalanan.
Selain jengkol dan petai, sejumlah bahan baku kuliner hasil pertanian juga diperjualbelikan oleh Mat Supi. Komoditas pertanian tersebut di antaranya kelapa, nangka muda, rebung, bunga pisang, berbagai jenis sayuran segar seperti kacang, sawi, terong, jagung muda serta beberapa jenis sayuran lain.
Ia bahkan menyebut mengirim sejumlah bahan kebutuhan bumbu seperti jahe, lengkuas, kencur, kunyit serta daun pisang.
Tingkat permintaan berbagai bahan baku kuliner tersebut diakui Mat Supi lebih meningkat dibandingkan selama bulan Ramadan dan Idul Fitri. Mulai lancarnya aktivitas masyarakat ikut mempengaruhi tingkat permintaan berbagai komoditas pertanian asal Lampung.
Sejumlah komoditas pertanian berangsur normal dengan pasokan lancar dari hasil perkebunan petani. Kondisi cuaca yang membaik ikut mempengaruhi membaiknya hasil pertanian yang ditanam oleh petani.
“Hasil pertanian jengkol dan petai hasilnya bagus karena musim berbunga saat kemarau sehingga tidak rontok, sementara komoditas sayuran pasokan air juga lancar,” terang Mat Supi.
Selain dikirim ke sejumlah pasar di Jakarta, Cilegon, munculnya pemilik usaha kuliner di Lampung Selatan membuat permintaan bahan baku meningkat. Usaha warung makan berkonsep Serba Sepuluh Ribu (Serbu) diakui Mat Supi membuat ia tidak hanya melayani pasokan pasar melainkan langsung ke sejumlah warung.
Pasokan tersebut di antaranya jengkol, petai, nangka muda untuk diolah menjadi bahan kuliner tradisional di antaranya rumah makan khas Lampung dan Padang.
Nina (30) salah satu pemilik warung berkonsep Serbu mengungkapkan, sejumlah komoditas pertanian berangsur turun. Jengkol, petai, berbagai jenis sayuran mudah diperoleh sebagai bahan baku sayuran.
Beberapa jenis komoditas pertanian yang dijadikan bahan baku kuliner tersebut diakui Nina sebagian merupakan hasil pertanian asal Lampung Selatan. Meski demikian jenis sayuran kentang, kubis, kol harus didatangkan dari wilayah Lampung Barat dan Tanggamus sebagai wilayah penghasil sayuran.