Panen Saat Ramadan, Keuntungan Petani Bawang Ketapang Menggiurkan
Redaktur: ME. Bijo Dirajo
LAMPUNG — Masa panen bawang merah yang berlangsung saat ini di Lampung Selatan memberikan keuntungan yang menggiurkan bagi petani. Hal tersebut tidak terlepas dari tingginya kebutuhan dan permintaan menjelang hari raya Idul Fitri.
Rahmat (58) salah satu petani penanam bawang merah di desa Tamansari kecamatan Ketapang menyebutkan, jelang lebaran permintaan meningkat. Pengepul kerap membeli dengan jumlah satu ton untuk disalurkan kembali ke pasar tradisional.
Harga di pasaran bawang merah yang berkisar Rp30.000 disebutnya masih berpotensi naik menjelang hari raya Idul Fitri. Masa 60 hari hingga 80 hari panen kerap dihitung petani disesuaikan dengan waktu tepat kebutuhan bawang meningkat.
“Tiga lahan saya kelola dengan pola tanam bawang merah berurutan sehingga saat satu lahan panen maka lahan berikutnya dipastikan memiliki usia satu bulan setengah,” terang Rahmat saat ditemui Cendana News di desa Tamansari kecamatan Ketapang, Senin (4/6/2018).
Tingginya permintaan membuat ia harus mendatangkan bibit bersertifikat dari Brebes Jawa Tengah. Benih bawang merah berbentuk biji atau true shallot seed (TSS) bersertifikat dibeli dari Brebes dengan harga Rp20.000 per kilogram. Perkilogram benih sesuai dengan pengalaman produksi yang diperoleh menghasilkan 100 hingga 120 kilogram.
Varietas yang cocok ditanam di wilayah berpasir dan dekat wilayah pesisir ditanam dengan sistem guludan dengan jarak tanam 25 x 25 cm. Satu hektare lahan dengan pola pengaturan jarak tanam dengan guludan membuat ia bisa menghasilkan panen bawang hingga 4 ton per hektare.
Harga komoditas bawang saat ini menurut Rahmat di level pengepul Rp25.000 hingga maksimal Rp27.000 per kilogram. Meski memasuki bulan ramadan dan menjelang hari raya Idul Fitri harga bawang merah masih cukup stabil. Hasil panen sebanyak 4 ton dengan harga Rp25.000 perkilogram dirinya bisa memperoleh hasil kotor sekitar Rp100juta.
Bermodalkan per hektar berkisar Rp50juta dipotong biaya produksi dan operasional berupa perawatan dan upah karyawan dirinya masih bisa mengantongi keuntungan Rp25juta sekali tanam. Keuntungan tersebut terbilang menggiurkan mengingat waktu panen lebih singkat dibanding komoditas pertanian lain.
“Meski secara tertulis hasilnya besar namun dalam kondisi cuaca tak mendukung hasilnya kerap tak maskimal ditambah ketika harga anjlok,” terang Rahmat.
Sobirin (40) pengepul bawang merah mengaku kini tak perlu membeli komoditas bumbu tersebut ke Brebes. Sebab sejumlah petani mulai menanam bawang merah dan kebutuhan 5 hingga 10 ton perbulan bisa dipenuhinya dengan adanya pengaturan masa tanam oleh petani.
“Jadwal penanaman yang diprediksi bisa dipanen saat kebutuhan meningkat membuat pasokan bawang untuk pasar lokal tak perlu menunggu dari Jawa,” terang Sobirin.

Meski masih membeli dalam jumlah sedikit bawang dari Brebes dan Padang, Sobirin mengaku pasokan bawang dari petani bisa menyeimbangkan harga. Sebab salah satu alasan pedagang lokal selama ini menaikkan harga bawang karena pasokan dari Brebes kurang.