Kesulitan Air, ACT Bangun Sumur Bor di Sijunjung

Editor: Koko Triarko

SIJUNJUNG – Kesulitan air yang melanda Pesantren Nurul Iman dan Musala Nurul Hudha di Kabupaten Sinjunjung, Sumatera Barat, sudah cukup lama terjadi. Untuk mendapatkan air, mereka harus mengandalkan air hujan dan air tangki.
Menurut Farelino, warga setempat, kesulitan air yang terjadi di Pesantren Nurul Iman sudah terjadi sekira dua tahun. Sebelumnya, sumur yang dimiliki sekolah itu, sempat mengering, namun di saat hujan turun, air yang ada di sumur menjadi berbau.
“Para santri telah memanfaatkan air sungai yang berada tak jauh dari sekolah. Tapi, airnya keruh dan tidak bisa digunakan dengan baik,” katanya, Rabu (6/6/2018).
Staf Program ACT Sumatera Barat Aan Saputra/Foto: M. Noli Hendra
Hal demikian disampaikan oleh pria penggerak Komunitas Aliansi Sijunjung Peduli (ASP) itu, kepada Aksi Cepat Tanggap (ACT) yang merupakan sebuah lembaga kemanusiaan di wilayah Padang, Sumatera Barat.
Merespon kondisi itu, ACT pun menetapkan untuk membangun sebuah sumur bor sebagai langkah untuk memberikan air bersih bagi para santri dan masyarakat sekitar.
Staf Program ACT Sumatera Barat, Aan Saputra, mengatakan, persoalan air untuk di Pesantren Nurul Imam memang sangat memperhatikan. Sumur yang dahulu ada sudah berbau, air sungai yang ada juga sudah keruh dan tidak banyak yang bisa digunakan dari kondisi air yang keruh itu.
Bahkan, katanya, untuk mendapatkan air bersih, para santri harus bekerja keras ketika hujan turun, untuk menampung tetesan demi tetesan air yang jatuh dari langit.
Namanya hujan, katanya, tentu tidak turun setiap saat. Sehingga ketika hujan tidak turun, santri memilih untuk membeli air bersih dari mobil tangki yang ada di daerah tersebut.
“Air adalah sumber kebutuhan utama, selain untuk minum, juga untuk mandi dan mencuci. Jika air dibeli tiap hari oleh santri, akan mengeluarkan biaya yang besar. Untuk itu, kita dari ACT memilih Pesantren Nurul Imam untuk dibangun sumur bor,” ujarnya.
ACT menyebutkan, bantuan sumur bor itu merupakan program ACT yang disebut dengan Sumur Wakaf, yang menyasar daerah-daerah yang memang dalam kondisi kesulitan air bersih.
Aan juga menyebutkan, kini di Pesantren Nurul Iman itu telah bisa memanfaatkan air bersih. Tidak hanya bagi sekolah, tapi juga turut membantu masyarakat sekitar, yang selama ini juga sulit untuk mendapatkan air bersih.
Sumur Wakaf tidak hanya ada di Pesantren Nurul Iman, tapi juga hadir di sebuah Musala Nurul Hudha yang ada di Desa Tampunik Ganting, Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat.
Persoalan kesulitan air bersih itu bahkan sudah terjadi sejak musala tersebut berdiri. Namun, kini dengan adanya Sumur Wakaf, Musala Nurul Hudha telah memiliki sumber air yang bisa digunakan untuk berwudu.
“Kalau yang musala ini memang tidak mempunyai air sama sekali. Cara untuk mendapatkan air wudhu pun, jemaah melakukan wudhu dari rumah. Kita sangat prihatin setelah melihat kondisi yang demikian,” jelasnya.
Kini, dengan telah ada sumur bor, persoalan itu pun tuntas. Kebahagiaan dari santri dan masyarakat pun terpancar. Apalagi, kini tengah menjalani ibadah puasa, suatu hal yang sangat istimewa.
Kepedulian ACT ini juga mendapat respon positif dari pemerintah, yang turut mengerahkan masyarakat untuk bergotong-royong membantu pembangunan sumur bor, bahkan ketika dana kurang.
Ke depan, ACT berencana akan terus menyasar daerah-daerah yang membutuhkan sumur bor. Sebab, implementasi Program Sumur Wakaf ini, berpedoman kepada masa Rasulullah, di mana ketika air dikuasi oleh kaum Yahudi, Rasulullah berupaya membantu umat muslim untuk mendapatkan air.
Lihat juga...