Sumbar Dinilai Siap untuk Program Desa Mandiri Lestari
Redaktur: ME. Bijo Dirajo
PADANG — Sekretaris Yayasan Damandiri, Firdaus saat hadir dalam Rapat Anggota Tahunan (RAT) Koperasi Serba Usaha (KSU) Dewantara Ranah Minang, turut memperkenalkan tentang Desa Mandiri Lestari kepada pengurus Posdaya dan kelompok Tabur Puja.
Ia menjelaskan pada prinsipnya Desa Mandiri Lestari adalah sebuah kerja sama atau gotong-royong antara semua eleman masyarakat moderen. Prinsipnya yakni pola pikir serta pola kerja yang sehat, produktif, inovatif dan adaptif, serta mandiri dalam memanfaatkan nilai dan sumber daya lokal yang ada.
Hingga saat ini pembangunan Desa Mandiri Lestari baru terfokus di Pulau Jawa, seperti di Desa Trirenggo Bantul, Desa Argomulyo Sedayu Bantul, Desa Samiran Boyolali, Desa Madura Cilacap, Desa Kesantunan Brebes, dan Desa Krambil Sawit.
Firdaus menjelaskan, hingga sekarang Desa Mandiri Lestari yang telah berlangsung di tahun kedua berjalan cukup bagus. Untuk itu, sebelum dibentuk di Sumbar, maka perlu menunggu hasil evaluasi dari yang telah dulu dibentuk di Pulau Jawa.
“Untuk Sumbar sebenarnya sudah siap untuk dibangun Desa Mandiri Lestari, hanya saja perlu menunggu bagaimana evaluasi dari perjalanan Desa Mandiri Lestari yang telah dulu berlangsung. Karena, kita di Yayasan Mandiri tidak ingin tergesa-gesa untuk menjadikan Sumbar Desa Mandiri Lestari,” ujarnya di Padang, Selasa (1/5/2018).
Ia menyebutkan, dalam Desa Mandiri Lestari itu nantinya ada sejumlah kegiatan yang terfokus yakni bedah rumah bagi keluarga yang pra sejahtera hingga modal usaha. Supaya seiring fisik rumah, kondisi ekonomipun diharapkan membaik.
Sementara itu, Supervisi Project Managing Unit (PMU) Tabur Puja Wilayah V Sumatera Edi Suandi menyebutkan, jika nanti Sumbar akan dibentuk sebuah Desa Mandiri Lestari, maka akan ada beberapa daerah yang sangat potensial.
Untuk daerah potensial di antaranya Kabupaten Solok, Kabupaten Pesisir Selatan, Kabupaten Tanah Datar, dan Kabupaten Pasaman. Selain itu, sistem kerja sama juga beragam, salah satunya Badan Usaha Milik Desa/Nagari (BUMDes/BUMNag)
“Soal Desa Mandiri Lestari ini saya sendiri sudah lama melakukan pemetaannya. Jadi, jika nanti di Sumbar ada Desa Mandiri Lestari, kita akan bekerja sama dengan Badan Usaha Milik Desa/Nagari,” tegasnya.
Menurut Edi, konsep Desa Mandiri Lestari di Sumbar yakni smart farming. Intinya, memanfaatkan teknologi informasi dalam melakukan proses pelaksanaan untuk mencapai target yang ditetapkan.
Dengan smart farming, akan menampilkan informasi tentang peta dan data yang lebih kompleks terutama segala sesuatu yang diperlukan oleh petani dalam melaksanakan kegiatan sehari-hari sehingga mempermudah, mempercepat, meningkatkan ketepatan sasaran serta mempercepat proses.
“Petani sangat memerlukan informasi cuaca sebelum menanam. Karena akan melakukan pemilihan bibit atau budidaya. Jadi dengan informasi yang diperoleh, maka penanggulangan hama bisa dilakukan secara akurat,” ungkap Edi.
Selain itu, dari sisi kelompok yang telah dibina selama ini telah terorganisir dengan baik. Apalagi untuk potensi pertanian Sumbar sepertinya lebih siap dari daerah yang telah dibentuk jadi Desa Mandiri Lestari.
Sebab, di Sumbar soal pertaniannya bahkan telah menjadi sentra, salah satunya di kawasan kecamatan Lembah Gumanti Kabupaten Solok yang merupakan Sentra Bawang Merah untuk wilayah Pulau Sumatera.
Belum lagi soal pertanian untuk sayur-sayuran, petani di Sumbar cukup banyak, seperti di Kabupaten Solok, Tanah Datar, Agam, Kota Padang Panjang dan beberapa daerah lainnya.
Sedangkan untuk pertanian sawah, di Sumbar daerah yang memiliki beras kelas premiun yakni Bareh Solok, juga menjadi beras andalan yang sudah terkenal di tingkat nasional. Lalu untuk hamparan sawah, di Kabupaten Pesisir Selatan, Tanah Datar, dan juga di Kabupaten Pasaman memiliki hamparan sawah yang luas.
“Kita di Sumbar ini soal pertanian tidak perlu diragukan lagi. Tidak hanya disisi pertanian pangan, tapi dari sisi perkebunan lain juga cukup banyak, seperti berkebun sawit, gambir, pinang, dan banyak lagi,” pungkasnya.