Produksi Kakao di Lampung Selatan Meningkat

Editor: Mahadeva WS

LAMPUNG – Petani kakao di wilayah Kecamatan Penengahan Lampung Selatan mengalami peningkatan produksi. Hal itu dipengaruhi dan didukung faktor cuaca yang membuat bunga kakao berkembang dengan baik.

[Henk Widi]
Tanaman kakao menunggu proses panen milik petani pekebun kakao di desa Banjarmasin kecamatan Penengahan Lampung Selatan [Foto: Henk Widi]
Petani kakao di Dusun Sideder Desa Banjarmasin Rusli (39) menyebut, produksi buah kakao di 2018 lebih tinggi dibandingkan tahun lalu. Di 2017, hasil panen kakao hanya mencapai 20 kuintal perpekan. Tahun ini hasilnya bisa mencapai 80 kuintal perpekan.

Sekali musim panen, pada lahan seluas satu hektar tahun lalu bisa menghasilkan tiga ton kakao kering dan tahun ini bisa mencapai dua kali lipat atau mencapai enam ton kakao kering. Peningkatan produksi yang lebih tinggi dikarenakan tahun ini curah hujan lebih rendah.

Selain produksi yang meningkat, harga buah kakao kering sempat mencapai level Rp20.000. Bahkan sempat menyentuh level tertinggi Rp25.000 perkilogram. “Kondisi cuaca serta harga kakao kering tergantung kebutuhan akan bubuk kakao dan sebentar lagi bulan Ramadan dan Idul Fitri kue berbahan cokelat akan meningkat,” terang Rusli, Selasa (8/5/2018).

Produksi kakao masih akan terus meningkat dengan kondisi cuaca yang semakin baik. Pada musim penanam penyelang, harga kakao di tingkat petani yang dibeli para cengkau (perantara jual beli kakao) sudah mencapai Rp28.000 dengan pengeringan satu hari.

Saat kakao dikeringkan selama empat hari, harga sudah bisa mencapai angka Rp30.000 hingga Rp35.000 perkilogram. Kondisi tersebut berbeda dengan komoditas pertanian lain yang saat panen raya harganya anjlok. Harga kakao justru akan terdongkrak saat musim panen. Sepanjang musim panen kakao selama dua tahun terakhir, Rusli menyebut, harga kakao pada tahun ini terbilang paling bagus di tingkat petani.

Selain menguntungkan petani penanam kakao, panen kakao ikut memberi dampak positif bagi peternak. Peternak kambing dan sapi bisa mempergunakan kulit kakao sebagai sumber pakan.

Terdongkraknya harga kakao juga dirasakan oleh Petani pekebun kakao di desa Banjarmasin Puryanti (40). Pemilik setengah hektar tanaman kakao tersebut mengungkapkan, harga kakao yang naik bertepatan dengan jelang Ramadan, hari raya Idul Fitri dan tahun ajaran baru sekolah memberikan kegembiraan bagi petani.

Hasil panen sekitar satu ton untuk lahan seluas setengah hektar, dan saat masa panen Mei sudah terjual tiga kuintal. Dengan harga Rp33.500 perkilogram, Puryanti  berhasil diperoleh uang penjualan sebesar Rp10,5juta. “Harga kakao yang terdongkrak naik sangat tepat berbarengan dengan kebutuhan yang akan meningkat sehingga menjadi investasi jangka panjang yang tepat bertanam kakao,” beber Puryanti.

Puryanti yang menjual kakao saat sudah kering sempurna atau hanya berkadar air delapan persen diprediksi bisa memperoleh uang sebesar Rp35 juta dari panen yang dihasilkan. Hasil tersebut merupakan total dari panen sebesar satu ton kakao dengan harga maksimal Rp35.000.

Melalui kelompok wanita tani (KWT) masyarakat berharap bisa mengolah kakao menjadi bubuk. Termasuk berkeinginan untuk melakukan usaha pengolahan biji kakao sebagai usaha skala rumahan. Mesin pengolah kakao disebut bisa membantu meningkatkan ekonomi penanam kakao.

Selama ini pengolahan baru dilakukan pada jenis kopi robusta dan arabica menjadi kopi bubuk untuk dijual dalam kemasan. Selain mesin pembuat bubuk kakao warga juga berharap ada keterampilan pembuatan produk olahan berbahan bubuk kakao.

Lihat juga...