Petani di Malang Kembangkan Beras Merah dan Hitam Organik

Editor: Koko Triarko

MALANG – Kelompok Tani Sumber Makmur II di Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang, terus berkomitmen mengembangkan pertanian organik dengan produk andalannya, beras merah dan hitam organik.
Pada 2007, Kelompok Tani (Poktan) Sumber Makmur II sudah mendapatkan program Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT) dengan basic organik. Dari sekolah lapang ini, para petani di wilayah tersebut mengetahui keuntungan pertanian organik dibandingkan konvensional.
“Ternyata sistem pertanian organik sangat menguntungkan bagi petani, karena mengacu pada pertanian yang berkelanjutan. Keuntungan selanjutnya adalah produk yang dihasilkan menyehatkan dan bermanfaat bagi kesehatan tubuh. Dan, dengan pertanian organik, kita turut melestarikan lahan yang ada,” jelas Ketua Poktan Tani Sumber Makmur II, Kemin Hardiyanto, Selasa (29/5/2018).
Disebutkan, penggunaan pupuk kimia hanya bagus sesaat, tapi mengakibatkan lahan menjadi rusak dan keras. Belum lagi kalau waktu musim hujan, pupuk kimia yang ditaburkan pasti akan hilang terkena air hujan.
Berbeda dengan pupuk organik akan memiliki imbas, apa yang diberikan musim ini masih akan tersisa untuk musim depan sehingga mampu sedikit mengurangi biaya produksi.
Lebih lanjut, Kemin menyebutkan, Poktan Sumber Makmur II saat ini lebih fokus mengembangkan pertanian beras merah dan hitam, dengan perlakuan organik, karena memiliki kandungan gula yang lebih rendah, sehingga sangat baik bagi kesehatan.
Selain itu, beras merah mengandung lebih banyak magnesium yang baik untuk kesehatan jantung. Kaya akan serat dan asam lemak, sehingga mampu mencegah sembelit dan memperlancar pencernaan serta kaya akan asam amino.
“Beras merah juga baik untuk program diet dan mempunyai kandungan vitamin B1, B3 dan mineral lebih tinggi dari beras putih,” terangnya.
Sedangkan beras hitam mampu meningkatkan ketahanan tubuh terhadap penyakit, mencegah gangguan fungsi ginjal, kanker, diabetes dan asam urat serta mampu membantu pembentukan sel baru.
Sementara itu dalam memasarkan produk beras merah dan hitam, menurut Kemin terdapat beberapa kendala yang kerap dihadapi. Di antaranya meskipun masyarakat sebenarnya sudah mengetahui beras merah dan hitam sangat baik bagi kesehatan, namun terkadang mereka kesulitan dalam memasak, atau banyak yang tidak terlalu suka dengan rasa dan warnanya.
Untuk itu, Kemin mempunyai ide untuk menjadikan beras merah dan hitam dalam bentuk sereal, dengan cara di sangrai dan digiling, sehingga bisa lebih praktis untuk dikonsumsi dan mudah dibawa.
“Cukup diseduh dengan air panas dan sedikit ditambahkan gula, kemudian bisa langsung diminum,” tuturnya.
Dari segi keuntungan, Kemin sebagai petani tidak mengejar produktivitas, tetapi keuntungan. Pasalnya, jika produksi tinggi, tapi tidak memperhitungkan biaya produksi, akan percuma saja.
“Kalau saya orientasinya kepada keuntungan. Berarti kita harus menghitung hasil yang diperoleh dikurangi biaya produksi, kalau nilai keuntungannya itu lebih tinggi, itu yang kita cari. Jadi, kita cari keuntungan, bukan produkstivitas,” akunya.
Karena produk organik butuh sertifikat sebagai legalitas, biaya sertifikat ini mau tidak mau diakumulasikan dengan haga beras tersebut, sehingga harga beras organik lebih mahal dari beras konvensional.
“Sebagai legalitas produk organik kami sudah melakukan perpanjangan sertifikat organik sebanyak tiga kali,” akunya.
Selain beras merah dan hitam organik, Kemin juga memproduksi beras putih organik.
Lihat juga...