Manfaatkan Hasil Pertanian, Jual Kebutuhan Menu Berbuka Puasa
Editor: Satmoko
LAMPUNG – Kebutuhan akan bahan pembuatan menu berbuka puasa (takjil) membuat Barokah (34) warga desa Mekar Sari kecamatan Pasir Sakti kabupaten Lampung Timur memilih menyediakan bahan yang dibuat dari hasil pertanian di wilayah tersebut.
Barokah menyebut beberapa jenis hasil pertanian yang dijual diantaranya buah kolang kaling yang berasal dari pohon aren. Selain kolang kaling ia juga menyebut menyediakan cincau hijau yang diolah dari pohon cincau.
Khusus untuk kolang kaling ia menyebut membeli dari pembuat kolang kaling yang berada di wilayah tersebut. Buah kolang kaling yang diolah secara khusus tersebut dibelinya dan dijual secara eceran dengan harga per bungkus Rp5.000 per kilogram, cincau hijau Rp3.000 per bungkus, mutiara Rp3.000 per bungkus, cendol Rp3.000 per bungkus.

“Biasanya orang berjualan menu takjil siap saji, tetapi saya memilih berjualan bahan untuk pembuatannya karena banyak warga yang memilih membuat menu takjil di rumah untuk porsi yang banyak,” terang Barokah, salah satu penjual bahan pembuatan takjil di kecamatan Pasir Sakti, saat ditemui Cendana News, Minggu (20/5/2018).
Barokah menyebut, sebagian warga membeli bahan pembuatan menu takjil dengan alasan warga bisa membuat menu minuman takjil sesuai selera. Jenis bahan yang digunakan untuk pembuatan menu takjil tersebut dibuat sendiri secara tradisional.

Bahan pembuatan menu takjil tersebut merupakan hasil kebun yang mudah diperoleh dari menanam di kebun. Jenis tanaman cincau yang tumbuh di kebun diolah menjadi cincau dengan proses pemerasan untuk mendapatkan cincau beku yang dijual dalam plastik bening berukuran setengah kilogram.
Cincau yang dibuat tanpa bahan pengawet tersebut kerap disukai warga sebagai campuran minuman es campur karena memiliki khasiat meredam panas dalam.
“Banyak warga memilih membeli bahannya untuk membuat menu minuman takjil di rumah dibanding membeli dalam kondisi jadi,” terang Barokah.

Sementara saat diolah menjadi menu takjil bisa dijual dengan harga lebih dari Rp2.000. Hasil pertanian berupa pepaya dan timun suri yang ditanam di kebun bahkan memberi tambahan penghasilan bagi dirinya sebagai petani.
Muntamah (23) salah satu pembeli bahan takjil kerap membeli buah pepaya, timun suri, mutiara dan kolang kaling. Dibanding membeli dalam kondisi jadi, ia mengaku, memilih membeli bahan pembuatan takjil karena berbagai bahan tersebut bisa dibuat untuk satu keluarga.
Proses pembuatan dilakukan dengan menggunakan bahan gula merah serta gula pasir. Sementara saat membeli dalam kondisi siap saji ia kerap menemukan takjil minumannya menggunakan pemanis dan pewarna yang kurang terjamin kesehatannya.
“Jika membeli es buah di bazar ramadan kerap air gula yang digunakan berasal dari sari manis bukan gula asli kadang justru membuat batuk,” terang Muntamah.
Pembelian bahan untuk kebutuhan pembuatan menu takjil juga lebih hemat dibandingkan jika membeli dalam bentuk jadi. Dalam sehari jika membeli menu takjil berupa sayuran, makanan dan minuman dari bazar ramadan di pasar Pulosari bisa menghabiskan Rp40.000.
Sementara jika membeli bahan, ia cukup menghabiskan uang sekitar Rp20.000. Ia menyebut dengan membeli bahan tersebut juga bisa menyediakan menu yang sehat untuk keluarganya.
Selama bulan Ramadan, Muntamah menyebut, saat ini banyak bermunculan penjual menu takjil. Meski demikian ia selalu menyediakan menu takjil yang dibuat sendiri.
Selain lebih menghemat untuk pengeluaran keluarga, ia juga memastikan bahan-bahan untuk pembuatan menu berbuka puasa tersebut merupakan bahan yang sehat.