Kedai Kopi di Solo Ajari Pengunjung Meracik Kopi
Editor: Koko Triarko
SOLO – Kopi di Indonesia tengah daun, dengan banyaknya pecinta kopi yang mulai tumbuh di berbagai kota di Indonesia. Di Solo, Jawa Tengah, penikmat kopi tumbuh pesat di berbagai kalangan, baik anak muda, remaja, maupun mereka yang sudah dewasa dan tua.
Bahkan, kedai kopi maupun warung kopi pun mulai tumbuh menjamur di sudut-sudut kota Bengawan ini. Tak hanya sebagai tempat “ngopi bareng”, sejumlah kedai kopi juga menawarkan keilmuan di bidang kopi, yang membahas segala pernak-perniknya.
“Di kedai kopi kita tak hanya menyediakan kopi, tapi kita juga melakukan whorkshop kopi dan diskusi kopi yang terbuka untuk umum,” ucap Alfian Eko Nugroho, pemilik Kedai Hakiki Kofie kepada Cendana News, Selasa (22/5/2018).
Mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS) ini menjelaskan, di tengah tumbuhnya ekonomi kreatif dari pecinta kopi, dirinya ingin membuat sesuatu yang berbeda. Yakni, di samping sebagai tempat menikmati kopi, kedai kopinya dapat bermanfaat bagi pengunjung yang ingin mengetahui berbagai keragaman kopi serta keunggulan masing-masing.
Tak hanya itu, untuk mendukung perkembangan industri ekonomi kreatif, mahasiswa jurusan agribisnis ini juga tengah mengembangkan konsep kedai store di lapaknya. Yakni, lokasi ngopi bareng yang dapat bersinergi dengan berbagai ekonomi keratif lainnya, baik craft maupun musik.
“Jadi, tidak hanya tempat kopi, tapi juga bisa merangkul berbagai potensi dan atmosfir baik yang ada di sekitar kita,” urainya.
Untuk mendukung tumbuhnya ekonomi kretaif maupun pecinta kopi, pihaknya mendatangkan orang yang ahli mempersiapkan, menyajikan dan membuat berbagai jenis minuman berbahan dasar kopi (barista). Langkah ini untuk menunjukkan keseriusannya, untuk memberikan pemahanan yang cerdas bagi pecinta kopi.
“Saat whorkshop maupun diskusi, pengunjung bisa belajar meracik maupun menyajikan kopi,” tegas mahasiswa asal Karanganyar, ini.
Selama dua tahun menjalani usaha di bidang kopi, Alfian mengaku ada berbagai tantangan yang harus dipecahkan. Tak hanya soal pasar, namun menumbuhkan wawasan pecinta kopi tak kalah pentingnya.
Campur tangan media dalam memberikan pemahaman akan kopi menurutnya tak kalah pentingnya. Sebab, tanpa media, sulit untuk membangun atmosfir pecinta kopi.
“Dengan konsep baru ini, kita butuh banyak bantuan dari media. Misalnya, ada majalah atau media yang mengulas soal kopi setiap pekannya atau rubrik khusus kopi. Seperti di Jogja, di sana pecinta kopi sudah tinggi. Untuk membangun atmosfir kopi bisa dengan mudah, apalagi didukung media,” imbuh pemuda 24 tahun ini.
Pertumbuhan kopi di Solo sangat pesat, yang awalnya hanya belasan, saat ini sudah ada ratusan tempat. Kedai kopi di Solo masih banyak yang menyajikan arabica kopi, sementara untuk robusta lebih banyak digunakan untuk kopi susu.
Dengan semakin banyaknya metode seduh, menurutnya, juga menjadi daya tarik tersendiri karena semakin banyak pilihan yang dapat dinikmati pengunjung.
“Cuma kendalanya kalau kita buat kopi yang bagus, belum semua petani memproses kopinya bagus. Terutama kualitas bahannya,” tandasnya.
Selama dua tahun berjalan, Alfian mengaku lebih memilih kopi lokal dibanding dengan kopi impor. Kopi lokal Indonesia memiliki potensi yang luar biasa, tidak hanya ragamnya, namun juga kualitasnya. Seperti dari Aceh Gayo, Kopi Flores, Bali dan Kopi Bone-Bone, Sulawesai Selatan.
“Di kedai kita juga ada dari Temanggung. Kenapa kopi lokal? Kita ingin sajikan yang lebih cinta produk lokal. Karena sebenarnya kopi lokal kita memiliki kualitas internasional. Bahannya sebenarnya bagus, tinggal petani bisa memilah serta dalam prosesnya juga baik,” pungkasnya.