Kambing Bligon, Nilai Jual Tinggi Perawatan Mudah
Editor: Mahadeva WS
YOGYAKARTA – Sejumlah warga di Kabupaten Bantul, memilih membudidayakan Kambing Bligon sebagai usaha sambilan di rumah. Kambing hasil persilangan jenis Peranakan Etawa (PE) asal Kaligesing dengan kambing Lokal atau Kacangan tersebut dipilih karena dinilai memiliki perawatan yang jauh lebih mudah.
Warga Tlogo, Kebonagung, Imogiri, Bantul Joko Iswantoro merupakan salah satu yang membudidayakan Kambing Bligon. Upaya tersebut sudah dilakukan sejak beberapa tahun terakhir. Kambing Bligon dipilih karena memiliki nilai jual lebih tinggi dibandingkan kambing lokal atau kacangan.
Sementara untuk perawatan, Kambing Bligon lebih mudah dibanding kambing PE. “Kalau PE-kan perawatannya susah. Punya tetangga saja mati. Beda dengan Bligon. Jauh lebih mudah. Dibandingkan Wedus Gembel (domba), juga lebih enak Bligon. Karena tidak perlu angon (menggembala), atau ngarit (mencari rumput),” ujarnya.
Tak seperti domba yang mengkonsumsi rumput sebagai pakan utama, ternak jenis kambing lebih banyak mengkonsumsi ramban atau daun-daunan sebagai makanan utama. Hal itu lah yang menjadi pertimbangan karyawan BLH Kota Yogyakarta tersebut. “Saya kan kerja di BLH. Jadi sering pangkas-pangkas pohon. Setiap pulang kerja, saya selalu bawa ramban. Sehingga ketika sampai rumah tidak perlu lagi cari pakan kambing. Karena kalau pulang kerja masih harus ngarit tidak ada waktu,” ujarnya.
Selain memiliki tingkat ketahanan tubuh yang lebih bagus dibanding kambing PE atau Domba, Bligon juga memiliki nilai jual cukup tinggi. Harganya mencapai Rp1 juta hingga Rp2 juta per ekor. Saat hari raya Idul Adha, harga kambing Bligon jantan dewasa bahkan bisa melambung hingga mencapai Rp 3juta. “Tahun lalu saya jual umur dua tahun harganya Rp 3juta,” katanya.
Selain memberikan ramban daun-daunan, Joko juga mengaku hanya memberikan makanan tambahan berupa Kleci atau kulit kedelai. Makanan tambahan ini dipilih karena memiliki kandungan protein yang cukup tinggi sehingga bagus untuk pertumbuhan ternak.
Untuk perkembangbiakan, dalam satu tahun satu indukan kambing betina bisa menghasilkan dua ekor anakan. Joko yang awalnya memiliki dua ekor kambing kini telah berkembang menjadi enam ekor dan beberapa kambing lainnya yang telah laku terjual.
“Satu-satunya kendala hanyalah bau kotoran yang lebih menyengat. Karena itu saya mengatasinya dengan membuat kandang berbentuk panggung. Selain lebih sehat, kandang model seperti ini juga lebih enak dibersihkan sehingga mengurangi bau kotoran,” pungkasnya.