Kadiskes: Vaksinasi Japanese Enchepalitis Tuntas di Bali

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

DENPASAR — Dinas Kesehatan Provinsi Bali menyebutkan, Vaksinasi Japanese Enchepalitis (JE) sudah dilakukan terhadap 964.011 orang. Angka tersebut melebihi dari yang ditargetkan, 96.2810 orang dengan waktu pelaksanaan hingga 9 Mei kemarin.

“Sudah tuntas pelaksanaannya, termasuk sweeping ke rumah warga hingga Rabu (9/5) kemarin, hasilnya cukup baik,” ucap Kepala Dinas Kesehatan Provinsi, I Ketut Suarjaya di Denpasar, Jumat (11/5/2018).

Suarjaya menambahkan, dalam pelaksanaannya vaksinasi virus JE ini pihaknya menyasar anak-anak yang berusia sembilan bulan hingga 15 tahun.

Menurut data dari WHO (World Health Organization) dan CDC (Centers for Disease Control and Prevention) menunjukkan bahwa Indonesia merupakan salah satu dari banyak negara Asia yang menjadi daerah endemis virus japanese encephalitis.

Di Indonesia kasus virus JE sudah ditemukan sejak tahun 90-an dan paling banyak terjadi di Bali. Dari 9,35 persen kasus yang terjadi, rata-rata penderita meninggal dunia dan selebihnya mengalami kecacatan baik lumpuh maupun idiot.

“Untuk di Bali, kasus virus JE ini hampir ditemukan di seluruh kabupaten/ kota di Bali, akan tetapi paling banyak di Kabupaten Jembrana dan Buleleng,” terang Suarjaya.

Suarjaya menerangkan, penyebaran virus JE ini melalui nyamuk, oleh sebab itu, pihaknya mengimbau masyarakat untuk selalu menjaga kebersihan lingkungan.

“Kami mengimbau kepada masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan, karena penyebaran virus ini sama dengan kasus nyamuk DB, namun bedanya ini nyamuk biasa, langkah pencegahan lain adalah dengan cara di vaksin itu tadi,” pungkas pria asli Buleleng ini.

Seperti yang diketahui, virus JE merupakan penyakit yang menyerang radang otak akibat virus japanese encephalitis, virus golongan flavivirus. Penularan hanya terjadi antara nyamuk Culex (terutama Culex tritaeniorhynchus) babi, dan atau burung sawah/ladang.

Japanese Enchepalitis
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali, I Ketut Suarjaya. Foto: Sultan Anshori

Penularan terjadi bila tergigit oleh nyamuk Culex tritaeniorhynchus yang terinfeksi. Biasanya nyamuk ini lebih aktif pada malam hari.

Nyamuk golongan Culex ini banyak terdapat di kandang babi, ayam serta persawahan dan area irigasi.

Di Bali, tingginya kejadian japanese encephalitis dikaitkan dengan banyaknya persawahan dan peternakan babi di area tersebut. Kejadian penyakit japanese encephalitis pada manusia biasanya meningkat pada musim penghujan. Virus JE ini pertama kali ditemukan di Jepang pada 1871.

Lihat juga...