SUM memejamkan mata, mencoba menangkap setiap desir suara yang mungkin ada. Tapi, masih sama seperti lima belas menit yang lalu. Hening.
Tunggu di ujung barat jembatan. Selasa. Aku akan tiba setelah Dhuhur.
Semalaman Sum memikirkan pesan yang dia baca dari ponsel milik Oman, pesan dari Tian. Tekadnya bulat sudah.
Bergegas dia membuka lemari bajunya. Dahinya berkerut selagi memilih berhelai-helai baju yang dia tarik dari tumpukan. Tergesa dia memakai semuanya. Ya, semuanya. Seorang perempuan berjalan melintasi jembatan dengan menjinjing tas pakaian pasti akan menarik perhatian orang.
Tapi, tidak akan menyolok kalau perempuan itu hanya terlihat berbadan subur saja. Paling orang akan mengira dia Yu Sarmi atau Mbok Jiman, perempuan-perempuan berbadan gemuk di desanya.
***
“MAKANYA aku nggak setuju kemarin itu kamu ikut nyinden di Omah Kayu. Ternyata lirik-lirikan sama laki-laki dari kota.”
Mulut Mak Setu memuntahkan kesal selagi tangannya membersihkan tanah yang melekat pada telo pendhem (ketela) panenan hari ini.
“Laki-laki itu kerjaannya cuma supir Sum. Bawa tamu-tamu dari Jakarta. Penghasilannya nggak jelas, nggak tentu!” Pak Rebo ikut menambah panjang omelan istrinya. Tangannya sibuk melinting tembakau dengan kaki mencangkung di atas lincak.
“Mbok masih mending si Oman. Dia itu guru. Tiap bulan bayaran. Guru! Sudah mesti pinter!”
“Mas Tian bukan supir, Pak. Dia kerja kantoran. Kalau sedang libur saja dia ngantar tamu pelesiran.” Sum mencoba berani membela kekasihnya.
“Halah! Itu biar kamu tambah kesengsem saja!”
Sum menutup gorden pintu kamarnya, meskipun tahu kalau itu percuma. Suara Mak dan Bapak bersahut-sahutan menelusup mengikutinya. Sum berbaring miring dan menutup kepalanya dengan bantal tipis.
“Tian…” bisik Sum dalam bekapan bantal.
Sum masih ingat bagaimana laki-laki itu spontan merangsek maju untuk melihat dirinya lebih jelas. Lalu sepasang mata beralis tebal itu menatapnya lekat-lekat. Laki-laki berkulit terang itu tak peduli ketika mulut-mulut usil para tamu menggodanya.
“Mas Tian kena sihir sinden, nih!”
Sum menahan diri untuk tidak tersenyum. Bisa-bisa ambyar semua hafalan lagunya. Jadi meski tangan Yu Menik dan Yu Lastri bergantian mencolek-colek lengan dan pahanya, dia tetap konsentrasi pada irama gamelan.
Tapi, mau tidak mau matanya tergoda untuk mencuri pandang pada laki-laki yang sudah membuat pipinya menghangat itu.
***
“SUM, ini…” Oman mengulurkan ponselnya.
Mulut Sum ternganga, matanya berbinar melebar.
“Dari Mas Tian?” bisiknya sambil setengah merebut ponsel itu.
Oman mengangguk dengan senyum dipaksakan. Dia pasrah saja ketika Sum menggeser duduknya sedikit menjauh darinya. Oman sedang betul-betul meresapi makna filosofi tentang cinta yang tak harus memiliki.
Satu kesalahan rupanya, ketika malam itu dia mengajak Sum untuk ikut manggung. Tapi memang tak ada pilihan lain. Satu sinden sedang jagong manten di desa sebelah. Terpaksa Sum dia ajak.
Sebenarnya Sum belum siap. Meski suaranya bagus, tapi cengkoknya masih harus banyak dilatih. Oman justru terlupa satu hal. Paras ayu Sum yang masih polos. Cantik dan malu-malu.
Sejak rombongan tamu yang dibawa Tian pulang, kunjungan laki-laki itu di desa mereka masih berlanjut. Hanya untuk Sum. Lewat ponsel Oman, dua sejoli itu saling berbalas pesan dan sesekali membuat janji bertemu diam-diam.
Sum terlanjur mabuk asmara, pada sosok laki-laki yang belum pernah dia temui di desanya. Gosip, di desa sekalipun, sudah pasti akan cepat menyebar. Dan Oman tidak bisa mengelak ketika orang tua Sum mencecarnya.
“Bocah masih lugu seperti Sum, kok dikenalkan orang kota, Man. Ya, jelas silau! Aku kira kamu ada rasa sama Sum. Atau mungkin kamu yang sudah punya gadis idaman lain?” Mak Setu memberondong dengan kalimat menyudutkan.
Merasa percuma menumpahkan marah pada Oman, Mak Setu menggandeng suaminya untuk mengurus Sum. Tiba-tiba saja gadis yang selama ini menurut dan selalu menunduk ketika ditegur, kali ini berani melawan mata kedua orang tuanya.
Keputusannya, Sum dilarang keluar rumah. Tapi sayangnya, karena masih berharap Sum akan berubah, Oman tetap boleh bertandang ke rumah untuk menemui Sum.
***
YA Mas, Selasa. Sum akan siap sesudah Dhuhur. Jangan dibalas.
Usai pesannya terkirim, Sum segera menghapus pesan masuk dari Tian maupun balasan darinya. Lalu memasang muka biasa saja pada Oman.
Hari itu tak ada matahari. Hujan sejak semalam membuat orang tuanya pagi-pagi sekali bergegas menengok ladang. Memastikan irigasi bekerja dengan baik telah membuat mereka sejenak melupakan Sum.
Bahkan ketika seorang berbadan gemuk melintas, Mak Setu hanya menoleh sekilas, dan mengenali kerudung ungu itu sebagai milik Yu Sarmi.
***
SUM menarik kedua sisi pakaiannya hingga lebih merapat. Angin yang lumayan kencang membuat helai-helai baju yang dipakainya terasa berat. Langkahnya limbung saat menapaki kayu-kayu basah yang menjadi lantai jembatan.
Beberapa kali langkahnya terhenti saat dia merasa pijakannya bergoyang. Seperti saat melintasi kali dengan kano, batinnya. Jembatan itu seperti tengah terombang-ambing.
Sum masih sempat mengira pandangannya yang kabur disamarkan rinai hujan ketika dilihatnya bilah-bilah kayu lantai jembatan saling-silang tak rapi lagi. Yang dia ingat berikutnya adalah kedua kakinya tergelincir dan dia gagal meraih besi pagar jembatan.
***
“MAN! Sum di mana?”
Oman sedang menutup perangkat gamelan dengan terpal ketika Mak Setu tiba-tiba muncul. Wajahnya terlihat pias dan keruh. Melihat reaksi Oman yang hanya melongo kebingungan, kedua tangan penuh kerut itu seketika menangkup di wajahnya.
“Ya Allah… Sum minggat, Man!”
Belum sempat Oman menjawab, terdengar suara riuh di belakang mereka. “Kali Oya mbludak (meluap)! Jembatan rubuh! Jembatan rubuh!”
***
TIAN tidak bisa melanjutkan laju mobilnya ketika semakin banyak kerumunan orang yang memadati jalan. Dia menepi di sembarang tempat dan turun.
Berkali-kali dia menelan ludah saat sadar tidak ada lagi hamparan sawah yang bisa dia lihat. Dia menerobos orang-orang yang tidak dia kenal dan mengikuti setapak yang sudah dia hafal arahnya. Dari situ dia biasa mencapai jembatan.
Tapi langkahnya terhenti, setapak itu terputus. Matanya hanya bisa menemukan tiang jembatan berhias motif batik yang tersisa separuhnya saja. ***
Oky E. Noorsari, lahir di Banjarnegara, kini berdomisili di Bantul, Yogyakarta. Tulisannya diterbitkan dalam beberapa antologi. Cerpennya pernah dimuat di majalah Gadis, Go Girl, Bobo, dan koran Minggu Pagi.
Redaksi menerima kiriman cerpen. Tema dan panjang naskah bebas yang pasti tidak SARA. Naskah orisinil, belum pernah tayang di media online maupun cetak, dan juga belum pernah dimuat di buku. Kirimkan naskah beserta biodata dan nomor ponsel ke editorcendana@gmail.com. Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan.