Es Sari Tebu Pelepas Dahaga, Berbahan Alami
Editor: Satmoko
LAMPUNG – Salah satu minuman tradisional yang dibuat dengan cara sederhana berbahan baku tanaman alami adalah minuman air tebu, ditambah dengan es menjadi minuman dingin menyegarkan.
Judah (67) dan sang isteri Sariem (64) menjadi salah satu pedagang minuman es buah di tepi Jalan Lintas Timur Sumatera tepatnya di desa Bandaragung kecamatan Sragi. Judah dan isteri mengaku sudah berjualan es sari tebu sejak tinggal di Jambi sepuluh tahun silam dan menetap di Lampung dengan usaha yang sama.
Minuman es tebu disebutnya dijual dengan cara berkeliling dan terkadang menetap di depan rumah yang berfungsi sebagai kedai es tebu Pendi. Sebuah banner berukuran 1 meter x 2 meter dengan nama Es Tebu Pendi dengan gambar dua turis asal Belanda yang terlihat asyik menyeruput gelas es tebu terlihat menjadi ciri khas.

Judah menyebut, sengaja berjualan minuman es tebu sebagai pilihan minuman yang banyak dijual di antaranya cendol, es krim, es buah, susu kedelai yang kerap dijual di wilayah tersebut.
Berada di dekat lingkungan sekolah, akses jalan utama membuat lokasi berjualannya cukup strategis. Selain itu ia menyebut minuman air tebu dibuat tanpa bahan pengawet dan dipercaya memiliki khasiat kesehatan, menambah energi, meningkatkan kadar kalsium serta manfaat lain.
“Air tebu yang diminum secara tepat memiliki beberapa khasiat dan cukup menyegarkan dan saya buat tanpa pengawet karena pelanggan bisa melihat bahan baku sekaligus bisa menebang sendiri pohon tebu yang ditanam di pekarangan,” terang Judah, salah satu penjual es tebu di Jalan Lintas Timur Lampung saat ditemui Cendana News, Sabtu (5/5/2018).

Tebu hijau diakuinya sengaja dipilih karena ciri khas batang yang terlihat menyegarkan, sari tebu yang manis dan berwarna hijau menyegarkan sebagai pewarna alami.
Proses pembuatan es tebu cukup mudah, dengan menyiapkan dua mesin pemeras tebu ia berjualan selama hampir sepuluh tahun. Mesin pemeras tebu disebutnya satu dioperasikan oleh isterinya dan satu unit dioperasikan oleh Judah, dua dari tiga anak yang tinggal di Jambi bahkan menekuni usaha yang sama.
Proses penjualan minuman es tebu dilakukan secara menetap di kedai dan saat ada tontonan atau acara khusus penjualan dilakukan dengan gerobak dorong beroda tiga.

Meski demikian Sariem menyebut, kerap mendatangkan batang tebu dari kecamatan lain di antaranya dari Ketapang bahkan hingga Lampung Timur. Semula para penanam batang tebu merupakan pembeli yang diberi bibit batang tebu dan hasilnya dijual kepadanya.
“Awalnya pembeli ada yang minta bibit satu batang, selanjutnya dikembangkan dan kita beli sekaligus menjadi penghasilan buat petani penanam tebu,” bebernya.
Sariem membeli per batang tebu yang sudah dibersihkan dengan ukuran sekitar dua meter dengan harga Rp1.000 hingga Rp2.000 per batang. Petani yang menjual batang tebu dalam beberapa rumpun kerap memperoleh penghasilan sekitar Rp50.000 hingga Rp100.000.
Kebutuhan akan batang tebu diakuinya akan meningkat saat acara khusus dengan kerumunan orang banyak, selama bulan Ramadan. Selama bulan Ramadan Sariem bahkan membuat sekitar 500 hingga 600 porsi es sari tebu untuk dijual dan didistribusikan ke sejumlah penjual makanan berbuka puasa.
Batang tebu yang ditanam diakuinya justru digunakan sebagai stok atau cadangan saat tebu susah diperoleh. Selain itu ia menyebut penjualan es tebu menyesuaikan kondisi cuaca dengan permintaan meningkat saat musim panas atau kemarau.
Sariem menggiling batang tebu dengan sebuah mesin pemeras tebu dioperasikan menggunakan listrik. Dua buah silinder difungsikan memeras batang tebu kupas yang telah dipotong. Dua batang tebu kupas disebutnya bisa menjadi satu porsi es tebu yang menyegarkan.
Sebagai upaya menjaga kualitas, Sariem menyebut tidak memeras tebu dan menyimpan dalam sebuah wadah. Sebab diakuinya sari tebu memiliki kesegaran maksimal empat jam setelah diperas selebihnya justru tidak enak. Sebagai solusinya es sari tebu miliknya hanya diperas saat ada pelanggan datang dan air sari tebu diberi tambahan jeruk nipis.
Pada hari biasa dalam satu hari dirinya bisa menjual sekitar 150 hingga 200 gelas es tebu. Dengan harga Rp2.000 per gelas ia bisa memperoleh Rp300 ribu hingga Rp400 ribu per hari. Selain diminum di kedai sebagian dibawa pulang sebagai oleh-oleh.
“Saat minum di kedai pembeli biasanya minum dua gelas sembari menikmati empek empek yang juga saya jual,” bebernya.
Ervin dan Soleh, dua siswa sekolah yang tengah libur menyebut kerap mampir di kedai es tebu Pendi. Keduanya memilih membeli es tebu dibandingkan minuman lain saat dalam kondisi panas karena dibuat dengan bahan alami.
Proses pembuatan yang bisa dilihat langsung bahkan menjamin kesegaran es sari tebu tersebut. Ervin dan Soleh bahkan pernah menebang, mengupas dan memeras tebu hasil tanaman milik Judah untuk diproses menjadi sari tebu agar ia mengetahui proses pembuatannya.
“Minuman es tebu selain terjangkau untuk kalangan pelajar bahannya alami, kami kerap membeli sehabis olahraga dan saat istirahat,” terang Ervin dan Soleh.
Hal yang sama diungkapkan oleh Ahmad, warga desa Bandaragung yang kerap membelikan es sari tebu untuk cucunya. Ia menyebut, membelikan es sari tebu agar sang cucu bisa memilih minuman tanpa bahan pengawet, pewarna serta zat kimia.
Minuman es sari tebu bahkan menjadi pilihan baginya saat menjalankan ibadah puasa Ramadan yang sebentar lagi akan dijalankan. Harga yang terjangkau dan terjamin aman membuat es sari tebu menjadi pilihan minuman pelepas dahaga.