Antariksa: Di Zaman Pendudukan Jepang, Lahir Banyak Seniman

Editor: Koko Triarko

Antariksa, peneliti sejarah kebudayaan masa pendudukan Jepang. –Foto: Akhmad Sekhu

JAKARTA – Antariksa meneliti sejarah kebudayaan masa pendudukan Jepang dari sudut pandang seniman. Hasilnya mencengangkan, karena pada penjajahan Jepang yang hanya 3,5 tahun, menghasilkan banyak seniman yang jumlahnya sampai ratusan.

“Selama masa penjajahan Belanda 350 tahun, kita hanya mengenal kurang dari sepuluh seniman, kebanyakan pelukis, tapi kemudian pada penjajahan Jepang yang hanya 3,5 tahun, berkembang sekitar 68 seniman yang dapat kita lacak dan mungkin jumlahnya lebih banyak lagi,” kata Antariksa, peneliti sejarah kebudayaan masa pendudukan Jepang saat conference press acara ‘3,5 Tahun Bekerja: Seni dan Propaganda Pendudukan Jepang, 1942-1945’ di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jl. Cikini Raya, Jakarta Pusat, Senin (7/5/2018).

Antariksa membeberkan, pada masa pendudukan Belanda, khususnya seni rupa, termasuk barang mewah, kebudayaan elit, bahkan orang pribumi tidak boleh masuk ke dalam, apalagi menggambar dengan menggunakan kanvas.

“Sedangkan masa pendudukan Jepang, dengan Putera, Pusat Tenaga Rakyat, dan Pusat Kebudayaan, Jepang memberikan kursus menggambar gratis, cat minyak gratis, kanvas gratis, studio gratis, bahkan model gratis. Karena itu lahir banyak seniman,“ bebernya.

Menurut Antariksa, sebenarnya seniman pada masa pendudukan Jepang, tidak hanya 68 nama, tapi dokumen lengkapnya bisa sampai 960 seniman. “Kenyataan ini tentu sungguh sangat menarik,“ ungkapnya.

Cara pandang bangsa sendiri terhadap riset yang menghasilkan manfaat tidak secara langsung belum dihargai di Indonesia. Beda kalau misalnya, riset air mineral manfaatnya bisa dirasakan secara langsung.

“Ini yang menjadi tantangan kami, riset sejarah yang menghasilkan manfaatnya tidak secara langsung belum dihargai di Indonesia,“ ujarnya.

Masalahnya, penelitian tentang Jepang banyak sekali, tapi sumber-sumbernya terbatas hanya ada di Indonesia. “Karena bahasa Jepang sulit luar biasa, paling tidak butuh satu setengah tahun hanya untuk bisa membaca, untuk bisa menulis butuh belajar sembilan tahun,“ tegasnya.

Pusat-pusat informasi dokumen maupun data tidak hanya di Jepang. Karya lukis memang di Jepang, tapi karya fotografi, artinya Amerika Serikat, Australia dan Belanda. Karya film ada di Belanda. Karya grafis ada di Belanda dan Perancis. Artinya, menyebar di mana-mana.

Sudah biaya mahal, hasilnya tidak secara langsung pula. Itu tantangan Antarikasa sebagai peneliti meneliti sejarah kebudayaan masa pendudukan Jepang dari sudut pandang seniman.

“Saya sedih, tapi saya memaklumi, karena sedikit demi sedikit pandangan mengenai penelitian sejarah sekarang ini mulai berubah, contohnya dengan program acara ‘3,5 Tahun Bekerja: Seni dan Propaganda Pendudukan Jepang, 1942-1945’ ini, “ tandasnya.

Lihat juga...