Nelayan Sabang Ujung Tombak Kedaulatan Negara
SABANG – Wali Kota Sabang, Provinsi Aceh, Nazaruddin menyatakan masyarakat nelayan merupakan ujung tombak kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari Sabang hingga Merauke.
“Nelayan itu ujung tombak kedaulatan negara,” kata Wali Kota Sabang Nazaruddin usai pembukaan “Festival Khanduri Laot” atau kenduri laut di Dermaga Container (CT-3) BPKS Sabang, Sabtu.
Sudah sepatutnya pemerintah memberikan perhatian lebih kepada nelayan agar ekonomi terus terus membaik, ujarnya.
Menurut Nazaruddin, Pemerintah Kota Sabang memfasilitasi pengelaran “Festival Khanduri Laot” untuk mempromosikan budaya masyarakat pesisir agar kunjungan wisatawan terus meningkat ke Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN).
“Festival khanduri laot baru pertama kali diselenggarakan secara serentak di Kota Sabang dan ini akan menjadi even tahunan Pemerintah Kota Sabang untuk meningkatkan kunjungan wisatawan,” katanya.
Selain itu kata Walikota, festival itu sudah menjadi budaya masyarakat pesisir dan sebagai wujud syukur atas hasil yang selama ini diperoleh di laut.
Festival khanduri laot menampilkan sejumlah atraksi seni budaya masyarakat pesisir diantaranya, atraksi melaut atau labuh pukat di teluk Sabang, sajian kuah beulangong (kuliner khas Aceh) dan pentas pesona budaya masyarakat paling ujung barat Sumatera.
Di lokasi pergelaran Festival Khanduri Laot terlihat wisatawan asing yang antusias menyaksikan penampilan seni tradisional Aceh yang dimainkan sekelompok kawula muda asal kepulauan paling ujung barat Indonesia.
Adapun rangkaian Festival Khanduri Laot dari 27 April hingga 1 Mei 2018 menampilkan sejumlah produk kreativitas hasil karya masyarakat pesisir di Dermaga CT-3 BPKS Sabang.
Kemudian, zikir akbar, kenduri untuk anak yatim serta dialog budaya sekaligus silaturahmi antar Panglima Laot atau lembaga adat laut se-Aceh yang akan berlangsung pada Minggu (29/4) di Sabang.
Gubernur Aceh Irwandi Yusuf diwakili Staf Ahli Bidang Pemerintahan dan Politik Abdul Karim menyatakan, kenduri laut sudah membudaya di kalangan masyarakat nelayan dan semua pihak berkewajiban melestarikan budaya tersebut.
“Budaya khanduri laot itu tidak bisa dipisahkan dari nelayan dan ini menjadi nilai tambah dalam mempromosikan industri pariwisata Aceh,” katanya.
“Pemerintah Aceh memberikan penghormatan kepada pemangku adat yang telah berperan aktif melestarikan budaya serta peduli terhadap ekosistem kelautan,” tambah Staf Ahli Pemerintah Aceh Bidang Pemerintahan dan Politik itu. (Ant)