YOGYAKARTA – Dinas Pertanian, Pangan, Kelautan, dan Perikanan Kabupaten Bantul, menyatakan luas tanam tebu di daerah tersebut dalam tiga tahun terakhir mengalami penurunan.
“Sejak 2015, luas tanaman tebu terus turun-turun, dari sekitar 1.900 hektare di 2015 menjadi 1.600 hektare pada 2016, dan di 2017 turun lagi menjadi 1.100 hektare,” kata Kepala Dinas Pertanian, Pangan, Kelautan, dan Perikanan Bantul Pulung Haryadi, di Bantul, Jumat (13/4/2018).
Dia menjelaskan, penurunan luas tanaman tebu di Bantul disebabkan beberapa faktor, yaitu belum tersosialisasikannya sistem kemitraan yang ditawarkan pabrik gula kepada petani yang berkaitan dengan penyerapan hasil panen tebu secara berkelanjutan.
“Kemitraan itu perlu dan pabrik gula harus terus bergerak, kami juga terus melakukan sosialisasi kalau sebetulnya sistemnya tidak hanya sewa, pabrik gula ada banyak alternatif, ada sewa, kemitraan, dan lain sebagainya,” katanya.
Ia mengatakan, faktor lainnya adalah faktor lama yang mana untuk penanaman hingga waktu panen tebu membutuhkan waktu sekitar sembilan bulan, tidak seperti tanaman pangan pada umumnya yang rata-rata sekitar tiga bulan sekali panen.
“Kalau tebu kan tidak tiga bulan (panen, –red), tetapi sembilan bulan lebih, ini yang memang menjadi faktor kenapa tebu menurun, karena petani butuh uangnya juga cepat, paling tidak tiga bulan,” katanya.
Pulung mengatakan, lahan bekas tanaman tebu yang kemudian tidak ditanami tebu itu, kemudian beralih ke tanaman komoditas lain, misalnya palawija, hortikultura, dan padi, terutama bagi mereka pemilik lahan yang tidak menyewakan lahannya.
“Biasanya pada beralih ke padi, kalau tidak ya ke hortikultura, dan karena itu milik petani kita tidak memaksakan, tapi kita menawarkan ada kemitraan dan lain sebagainya ketika mereka tetap ingin menanam tebu,” katanya.
Ia menyatakan, tidak sependapat dengan anggapan, bahwa menanam tebu dari sisi usaha tani sebagai hal yang tidak menguntungkan.
Ia menjelaskan petani tetap mendapat keuntungan jika lahannya ditanami tebu, tetapi butuh waktu lebih lama.
“Alternatifnya kan menyewakan, tapi itu perlu negosiasi angkanya, dan kadang tidak ada kesepakatan harga antara petani dengan penyewa. Ke depan kita akan terus sosialisasi, kami targetkan kembali ke luasan 1.900 hektare,” katanya.