LIPI Gelar Pendidikan dan Pelatihan kepada Petani Klaten

Editor: Irvan Syafari

SOLO — Sebagai pusat pengembangan riset dan teknologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) terus menghasilkan riset untuk mendukung prioritas nasional pengembangan dunia usaha dan pariwisata.

Salah satunya dengan deseminasi hasil-hasil riset kepada masyarakat agar mampu meningkatkan perekonomian serta mengoptimalkan potensi yang dimiliki suatu daerah tertentu.

Seperti halnya yang dilakukan Pusat Penelitian Biologi LIPI yang mengelar pelatihan dan diseminasi ilmu pengetahuan dan teknologi kepada petani di Klaten, Solo, Jawa Tengah, yang masuk daerah pengembangan di kawasan Borobudur.

Kepala Pusat penelitian Biologi LIPI, Ir Witjiaksono kepada awak media mengatakan, dalam kesempatan ini pihaknya akan membagi ilmu kepada petani meliputi tiga pengembangan usaha dan pariwisata. Yakni pengembangan pohon Jati Platinum LIPI yang telah dilakukan berbagai riset selama berlangsung selama bertahun-tahun.

“Jati Platinum LIPI ini jika dibandingkan dengan jati lokal sangat jauh. Baik dari segi nilai ekonomisnya maupun masa panen. Jika jati lokal bisa dipanen setelah usia 20 tahun, untuk Jati Platinum usia 10 tahun sudah bisa di panen,” terangnya di sela-sela pendidikan dan pelatihan yang digelar di Balai Desa Gempol, Kecamatan Karanganom, Klaten, Kamis (5/4/2018).

Keunggulan lain Jati Platinum LIPI adalah lebih tahan terhadap hama pohon jati maupun serangan virus. Jati varietes ini juga diklaim lebih tahan terhadap cuaca kemarau panjang, dengan mempertahankan daun lebih lama dibanding dengan jati lokal pada umumnya.

“Ketika mampu mempertahankan daun lebih lama, ini membuat pertubungan pohon juga lebih cepat. Kalau daun jati rontok semua, otomatis untuk berkembang sulit,” urainya.

Tidak ada perlakuan khusus dalam perawatan pohon Jati Platinum LIPI. Hanya saja disarankan untuk Jati Platinum ini ditanam di daerah yang tengger (perbukitan) agar terkena sinar matahari langsung dan saluran airnya bisa tuntas.

“Lebih cocok lagi ditanam di daerah yang memiliki kontur tanah yang mengandung gamping. Ini akan mudah tumbuh dan berkembang dengan pesat,” jelas Witjiaksono.

Lebih lanjut dia mengatakan, selain sosialisasi dan pengembangan Jati Platinum, Pusat Penelitian Biologi LIPI juga memberikan pelatihan membuat Pupuk Organik Hayati (POH).

POH ini merupakan upaya LIPI untuk menciptakan kemandirian daerah dalam meningkatkan produksi pangan. POH LIPI mampu menyuburkan secara alami, meningkatkan ketahanan terhadap hama dan penyakit serta memelihara kesehatan tanah.

“Selain itu, petani dapat membuat sendiri pupuk ini dengan bahan-bahan yang mudah didapat sehingga biaya pemupukan lebih murah. Proses pembuatan POH ini menggunakan mikroba yang tidak dimiliki pupuk organik lain yang ada di pasaran,” urainya.

Pusat Penilitian Biologi LIPI juga meminta desa-desa mengembangkan wilayahnya dengan menamam berbagai jenis tanaman penghasil getah serta bunga. Berbagai tanaman itu jika dikelola dengan baik akan bagus digunakan untuk pembudidayaan lebah propolis (klanceng).

Lebah propolis yang menghasilkan propolis atau madu obat, yang dapat dimanfaatkan untuk kesehatan, penghasilan ekonomi, kualitas lingkungan dan produksi tanaman pertanian akan meningkat.

“Selama ini karena kurangnya pengetahuan tentang lebah ini menyebabkan lebah tidak diberdayakan. Bahkan lebah Trigona ini diganggu ataupun dibunuh. Keberhasilan ternak lebah ini sangat bergantung terutama pada tanaman dan tumbuhan penghasil pakan dan resin,” tandasnya.

Sementara itu, Kepala Desa Gempol mengatakan pelatihan dan diseminasi ilmu pengetahuan LIPI ini diikuti sekitar 300 pertani perwakilan kelompok tani di Klaten. Harapannya, setalah diberi pelatihan dapat dikembangkan di daerah masing-masing.

“Kalau Desa Gempol sendiri memang konsen terhadap tanaman organik. Jadi yang ditekankan adalah pembuatan POH. Untuk petani lain, misal di lereng gunung pengembangannya adalah pohon Jati Platinum. Demikian juga untuk pemberdayaan lebah klanceng,” katanya.

Lihat juga...