Angka Buta Aksara di NTB Masih Tinggi
Editor: Irvan Syafari
MATARAM — Partisipasi sekolah dan masalah drop out menjadi faktor utama mengapa angka buta aksara di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) sampai sekarang masih tinggi, yang kemudian berpengaruh terhadap Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di NTB.
“Tinggi rendahnya angka buta aksara di suatu daerah termasuk di NTB, akan ditentukan oleh sejauh mana tingkat partisipasi sekolah dan angka drop out,” kata Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) NTB, Muhammad Suruji di Mataram, Kamis (5/4/2018).
Karena itu, Dikbud terus berupaya mendorong partisipasi sekolah bisa terus meningkat dan berupaya menurunkan angka drop out anak usia sekolah, terutama anak usia Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama (SMP)
Dengan mendorong partisipasi sekolah tidak ada lagi anak di NTB yang tidak bersekolah, kemudian bagi anak-anak yang sudah bersekolah agar dijaga untuk tidak sampai DO alias putus sekolah.
“Jika dua hal tersebut mampu dilakukan, maka di NTB dijamin tidak ada lagi buta aksara, dua hal yang harus diantisipasi dan betul betul dijaga,” jelasnya.
Dikatakan, tren pergerakan partisipasi angka drop out juga mencapai 10 tahun. Sehingga, rasio buta aksara warga NTB yang dihitung sampai usia 60 tahun menjadi kian berkurang. Jika sudah masuk fase 10 tahun.
Maka angka partisipasi sekolah warga NTB akan bisa menembus kisaran 98 persen. Sehingga, diprediksi, dalam 8 sampai 10 tahun ke depan, tidak ada lagi buta aksara baru di NTB.
“Berdasarkan data Dikbud NTB sendiri, angka buta aksara mencapai 1,8 juta. Data tersebut diakuinya belum bisa memenuhi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2013-2018, yakni sebanyak 13 persen pada 2014, di mana masalah buta aksara paling besar terjadi pada 2016, dengan usia antara usia 18 sampai 60 tahun”
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) NTB, Ridwansyah menyampaikan, secara rinci dari 31 indikator kinerja RPJMD NTB, sebanyak 22 indikator sudah mencapai target yang ditetapkan, sedangkan enam indikator lainnya masih dalam tahapan penyusunan laporan, karena belum ada datanya.
“Keenam indikator itu yang belum ada data rilnya antara lain pengeluaran per kapita rata-rata, lama sekolah usia 25 tahun ke atas, buta huruf penduduk usia 15 tahun ke atas, usia harapan hidup dan prevalensi kurang gizi,” katanya.